Kupang, seputar-ntt.com – Keputusan Partai Demokrasi Indonesia Pejuangan (PDIP) dalam memutuskan Marianus Sae dan Emilia Nomleni sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT sudah dipertimbangkan secara matang. Untuk itu semua kader untuk menghormati keputusan tersebut.
Hal ini ditegaskan Sekjend PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto terkait adanya sejumlah kader yang memilih keluar dari PDIP pasca putusan pasangan calon untuk bertarung di Pilgib NTT. Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa bergabung atau keluar Partai merupakan sikap yang dijamin konstitusi Partai.
“Ketika seseorang menjadi anggota Partai, diawali dengan mengajukan surat permohonan sbg anggota dan ketika ybs mundur hanya gara2 urusan pencalonan, maka sikap tsb dapat diterima. Hal itu lebih kesatria dibandingkan harus dipecat karena pelanggaran disiplin Partai. Penetapan paslon NTT telah melalui mekanisme kelembagaan baik melalui survey, pemetaan internal, maupun pertimbangan strategis kepartaian” kata Hasto
Hasto menegaskan bahwa berpartai itu menyatukan diri dengan kepentingan ideologis Partai guna membumikan Pancasila dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepentingan individu menjadi relatif ketika masuk ke Partai.
Khusus untuk NTT sebelum penetapan paslon, Bapak Djarot Syaiful Hidayat sempat ditugaskan ke NTT bertemu para tokoh dan menampung aspirasi masyarakat. Marianus Sae dinilai berprestasi, mampu membawa perubahan di kab Ngada, dan didampingi oleh Ir. Emmilia Julia Nomleni, kader perempuan senior Partai” paparnya.
Dalam catatan DPP Partai, Sebagai Bupati Ngada dua periode, maka Ngada merupakan kabupaten pertama yang keluar dari ketertinggal dalam waktu 3 tahun dengan empat prioritas utama yang dilakukan di Ngada yaitu : infratruktur, kesehatan, pendidikan, dan Ekonomi. “Prestasi ini tentu diapresiasi oleh DPP Partai” kata Hasto
Hasto menegaskan, Keputusan DPP Partai bersifat final. Pada akhir Januari 2018, sdr Marianus dan Emilia akan mengikuti Sekolah Para Calon Kepala Daerah.(jrg)
Follow