Kupang, seputar-ntt.com – Panas terik menyengat kulit bukan hal asing bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur. Wilayah dengan iklim kering ini sering mencatatkan suhu udara di atas 35 derajat Celsius, terutama di kawasan pesisir seperti Kupang, Rote, dan Sumba. Namun banyak orang belum menyadari bahwa cuaca panas yang terus berlanjut menyimpan risiko bagi tubuh, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Riset kesehatan mencatat sebagian besar wilayah NTT memiliki curah hujan rendah dengan musim kemarau yang panjang. Kondisi ini membuat suhu lingkungan naik dan kelembapan udara menurun. Saat panas ekstrem datang, tubuh dapat kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat. Bila kehilangan itu tidak segera diganti, tubuh akan mengalami dehidrasi.
Dehidrasi sering diremehkan karena gejalanya dianggap wajar. Padahal tanda-tandanya cukup jelas bila diamati dengan saksama. Haus yang berlebihan, mulut kering, air kemih berwarna kuning pekat, pusing, hingga otot terasa lemas adalah beberapa penanda awal yang perlu diwaspadai. Pada anak-anak, dehidrasi bisa terlihat dari berkurangnya frekuensi buang air kecil dan mata yang terlihat cekung.
Tenaga kesehatan menyarankan langkah paling sederhana untuk mencegah dehidrasi adalah minum air putih secara rutin, bukan hanya saat merasa haus. Haus adalah tanda lanjutan, bukan tanda awal. Orang dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar delapan gelas air per hari, dan lebih banyak lagi bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan, seperti petani, nelayan, dan pekerja bangunan.
Kebiasaan masyarakat di NTT yang gemar minum kopi dan teh manis sepanjang hari juga perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca. Minuman berkafein bersifat diuretik yang dapat mendorong tubuh mengeluarkan lebih banyak cairan. Selama musim panas, ada baiknya porsi air putih diperbanyak dan konsumsi minuman manis dikurangi.
Masyarakat juga disarankan memperhatikan jadwal aktivitas di luar rumah. Beraktivitas pada pukul 10 hingga 15 waktu setempat, saat matahari berada di titik tertinggi, sebaiknya dihindari bila tidak mendesak. Bila terpaksa keluar, gunakan penutup kepala, pakaian longgar berwarna terang, dan carilah tempat berteduh secara berkala.
Penggunaan elektrolit juga dapat membantu, terutama bagi mereka yang berkeringat banyak. Air kelapa muda yang mudah ditemukan di NTT merupakan pilihan alami yang kaya kalium. Buah-buahan lokal seperti pisang dan semangka juga membantu mengganti cairan serta mineral yang hilang.
Kasus kelelahan akibat panas di NTT umumnya meningkat pada puncak kemarau. Karena itu, langkah pencegahan tidak cukup dilakukan oleh individu saja. Sekolah, tempat kerja, dan kegiatan keagamaan yang padat kegiatan di luar ruangan perlu menyediakan akses air minum yang memadai bagi peserta dan pengunjung.
Bila gejala dehidrasi sudah berat, seperti muntah terus-menerus, kebingungan, atau penurunan kesadaran, penanganan mandiri tidak dianjurkan. Segera bawa penderita ke fasilitas kesehatan terdekat, baik puskesmas maupun rumah sakit, agar mendapat penanganan yang tepat dan cepat.
Menghadapi iklim yang semakin tidak menentu, menjaga tubuh tetap terhidrasi adalah bentuk perawatan diri paling murah yang bisa dilakukan siapa pun. Dengan kebiasaan kecil minum air secara teratur, masyarakat NTT bisa melewati kemarau dalam kondisi sehat dan bugar.(*)
Follow