Ende, seputar-ntt.com – Menyusuri jalan Trans Flores yang berliku dari arah Maumere, wisatawan akan disambut pemandangan yang jarang terlupakan: tiga danau berwarna hitam, hijau, dan merah muda yang menempel pada satu kawah gunung yang sama. Itulah Danau Kelimutu di Desa Moni, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, salah satu keajaiban alam paling terkenal di Nusa Tenggara Timur.
Keistimewaan Kelimutu terletak pada warna air danau yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa dapat diramalkan. Perubahan warna ini dipengaruhi aktivitas geokimia di dasar danau serta kandungan mineral di dalamnya. Fenomena serupa hanya dikenal di sedikit tempat di dunia, sehingga Kelimutu masuk dalam jaringan taman nasional yang dilindungi negara sejak 1992.
Tiga danau ini memiliki nama tersendiri bagi masyarakat Lio, suku yang tinggal di lereng gunung ini. Danau di timur disebut Tiwu Ata Polo, danau di tengah bernama Tiwu Ko’o Fai Nuwa Muri, dan danau di barat disebut Tiwu Ata Mbupu. Bagi warga setempat, ketiga danau itu dipercaya sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur, sehingga kawasan ini tidak hanya bernilai wisata tetapi juga sakral secara kultural.
Bagi wisatawan, momen paling dinanti adalah matahari terbit. Sudut pandang paling favorit adalah bukit pengamatan yang berjarak sekitar sepuluh menit jalan kaki dari area parkir. Dari titik ini, ketiga danau bisa terlihat sekaligus dalam satu bingkai, dengan kabut tipis yang menggantung di sekeliling puncak saat pagi hari.
Perjalanan menuju Kelimutu biasanya dimulai dari Kota Ende sekitar tiga jam, atau dari Maumere sekitar empat jam. Desa Moni di kaki gunung menjadi tempat singgah utama, dengan banyak penginapan sederhana milik warga. Sebagian besar wisatawan bermalam di Moni lalu berangkat naik dini hari agar tiba di kawah sebelum matahari terbit.
Biaya masuk kawasan untuk wisatawan domestik relatif terjangkau, sementara pengunjung mancanegara dikenakan tarif berbeda. Tiket bisa dibeli langsung di pos masuk, dan kawasan buka mulai dini hari hingga sore. Pengunjung disarankan datang pada musim kemarau, sekitar bulan April hingga Oktober, saat langit lebih cerah dan jalanan tidak licin.
Kendati begitu, mendaki Kelimutu bukan kegiatan berat. Dari pintu masuk, wisatawan hanya perlu menempuh anak tangga kurang lebih 1,5 kilometer dengan kontur menanjak ringan. Sepanjang jalur tersedia shelter untuk beristirahat. Udara di ketinggian sekitar 1.600 meter di atas permukaan laut terasa sejuk, jadi jaket tipis cukup membantu, terutama saat pagi buta.
Setelah menikmati pemandangan, wisatawan biasanya melanjutkan perjalanan menelusuri wisata sekitar Moni, seperti mata air panas dan air terjun kecil di pedalaman. Kuliner khas Ende seperti ikan kuah asam juga layak dicoba di warung-warung warga sepanjang jalur utama menuju desa.
Kelimutu pernah masuk daftar calon keajaiban alam dunia versi sejumlah lembaga survei internasional. Penghargaan itu menegaskan nilai luar biasa yang dimiliki NTT di mata dunia. Melihat langsung tiga danau berwarna itu memberi pengalaman yang sulit digantikan foto atau video.
Bagi siapa pun yang merencanakan perjalanan ke Flores, Kelimutu adalah salah satu destinasi yang layak diberi waktu khusus dalam rencana perjalanan. Datanglah pagi-pagi, bawa kamera dan sedikit kesabaran, dan biarkan keajaiban alam pulau kecil di timur Indonesia ini menjadi cerita yang dikenang lama.(*)
Follow