Waikabubak, seputar-ntt.com – Di tengah hamparan sabana Pulau Sumba, seekor kuda dengan tubuh mungil namun kokoh berlari kencang mengejar angin. Inilah kuda sandelwood atau kuda sandel, hewan yang bukan sekadar hewan ternak bagi masyarakat Sumba, melainkan bagian tak terpisahkan dari jejar sejarah, budaya, hingga ekonomi pulau tersebut.
Nama sandelwood melekat pada ras kuda ini karena ikatan historisnya dengan perdagangan cendana. Ribuan pedagang dari berbagai penjuru Asia datang ke Sumba untuk memburu kayu cendana yang harum, dan dipercaya mereka pula yang membawa serta kuda-kuda dari daratan lain ke pulau ini. Melalui proses seleksi alam dan pemuliaan turun-temurun selama ratusan tahun, lahirlah kuda sandelwood dengan karakter khas yang berbeda dari ras lain di Nusantara.
Secara fisik, kuda sandelwood memang tidak sebesar jenis kuda lain. Tinggi punggungnya rata-rata hanya berkisar 120 hingga 130 sentimeter. Namun di balik postur yang relatif kecil itu tersimpan kekuatan luar biasa. Kuda ini dikenal ulet, tahan terhadap iklim kemarau panjang, dan mampu berlari cepat di medan berbatu serta tanah kering khas Sumba.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Sumba, kuda menempati posisi terhormat. Ia menjadi salah satu unsur penting dalam tradisi belis, semacam mahar atau mas kawin dalam adat, di samping kerbau dan gading. Keluarga yang memiliki kuda bagus kerap dipandang tinggi statusnya. Kuda juga kerap dihadiahkan pada momen penting seperti pernikahan dan penyelesaian sengketa adat sebagai simbol penghormatan.
Peran kuda sandelwood paling meriah terlihat saat musim pasola, atraksi perang tombak khas Sumba Barat dan Sumba Barat Daya yang digelar tiap tahun sekitar Februari hingga Maret. Sebelum pasola dimulai, para penunggang kuda memperagakan kehebohan lomba dan pawai di sekitar arena. Kuda-kuda yang terlatih berlari sekencang itu sambil menopang penunggangnya menjadi tontonan yang menyedat perhatian warga dan wisatawan.
Dari sisi ekonomi, kuda sandelwood kini juga dikembangkan sebagai komoditas peternakan. Kuda-kuda hasil pembibitan di Sumba dipasarkan hingga ke luar daerah, baik untuk keperluan pacu kuda, hobi, maupun pengembangbiakan. Harga seekor kuda sandelwood yang bagus bisa mencapai belasan juta rupiah, menjadikannya aset bernilai bagi keluarga peternak di pedalaman Sumba.
Di sisi lain, keberadaan kuda sandelwood sebagai hewan asli Pulau Sumba menghadapi tantangan tersendiri. Populasi yang stabil membutuhkan perawatan, pakan yang cukup di musim kemarau, serta tata cara pembibitan yang sehat. Sejumlah peternak dan komunitas pecinta kuda di Sumba kini giat melakukan pemuliaan agar kualitas ras ini tetap terjaga dan tidak terkikis oleh persilangan yang tidak terkontrol.
Bagi wisatawan yang singgah di Sumba, keberadaan kuda-kuda yang berkeliaran bebas di padang sabana menambah daya tarik tersendiri. Pemandangan kuda yang berlalu di kaki perbukitan, ditemani cakrawala senja khas timur Nusa Tenggara, menjadi salah satu momen paling banyak diburu lensa. Wisatawan pun bisa menikmati sensasi menunggang kuda di sejumlah desa wisata.
Sama seperti kayu cendana yang dulu membuat namanya harum hingga ke mancanegara, kuda sandelwood adalah warisan hidup Pulau Sumba yang perlu dijaga. Merawat ras ini berarti merawat identitas, sejarah, sekaligus mata pencaharian masyarakat Sumba dari generasi ke generasi.(*)
Follow