Kupang, seputar-ntt.com – Udara panas dan kering yang melanda Nusa Tenggara Timur sepanjang musim kemarau kerap membawa keluhan sederhana namun mengganggu, yaitu sariawan dan bibir pecah-pecah. Kondisi ini umum terjadi pada masyarakat yang aktif beraktivitas di luar ruangan dengan paparan matahari tinggi.
Sariawan atau aftosa stomatitis adalah luka kecil pada selaput lendir mulut yang terasa perih, terutama saat menyentuh makanan asam, pedas, atau panas. Sementara bibir pecah-pecah terjadi ketika kelembapan kulit bibir menurun drastis akibat dehidrasi, angin kering, dan kebiasaan menjilat bibir yang justru memperparah kondisi.
Penyebab utama keduanya di musim kemarau adalah kurangnya cairan tubuh. Pada cuaca panas, tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat sehingga kebutuhan air meningkat. Bila asupan cairan tidak tercukupi, selaput lendir mulut menjadi kering dan mudah terluka, dan bibir kehilangan kelembapannya.
Kekurangan zat gizi tertentu juga memicu sariawan yang berulang. Asupan vitamin C, zat besi, dan vitamin B kompleks yang rendah dapat memperlambat pemulihan jaringan mulut. Itulah mengapa sariawan kerap muncul ketika pola makan tidak teratur atau nafsu makan menurun karena panas.
Langkah paling dasar untuk mencegahnya adalah memenuhi kebutuhan cairan, yaitu dengan meminum air putih secara rutin sepanjang hari meski tidak merasa haus. Bagi pekerja lapangan, ibu rumah tangga, dan anak-anak yang aktif bermain, kebutuhan cairan bisa lebih tinggi dari biasanya dan sebaiknya selalu tersedia air minum di tempat aktivitas.
Konsumsi buah-buahan lokal yang kaya air dan vitamin C juga membantu. Pepaya, jeruk, pisang, dan nanas yang mudah didapat di pasar-pasar NTT dapat menjadi camilan sehat yang sekaligus menjaga kesehatan selaput mulut. Sayuran berdaun hijau turut melengkapi kebutuhan zat besi dan vitamin tubuh.
Untuk bibir, kebiasaan kecil memberikan efek besar. Menghindari menjilat bibir, menggunakan pelembap bibir sederhana seperti petroleum jelly, dan melindungi wajah dari sinar matahari langsung dengan topi dapat menahan kelembapan kulit bibir sepanjang hari.
Kebersihan mulut tetap menjadi fondasi. Menyikat gigi dua kali sehari dengan sikat berbulu lembut, berkumur setelah makan, dan menghindari makanan terlalu pedas atau asam saat sariawan mulai terasa dapat mempercepat penyembuhan dan mencegah luka bertambah parah.
Pada umumnya sariawan membaik sendiri dalam satu hingga dua minggu. Namun masyarakat disarankan waspada bila luka tidak kunjung sembuh lebih dari dua minggu, berukuran membesar, atau disertai demam dan kesulitan menelan, sehingga perlu diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Musim kemarau bukan alasan untuk mengabaikan kesehatan tubuh. Dengan cairan yang cukup, gizi seimbang, dan kebiasaan merawat mulut serta bibir yang baik, keluhan sederhana ini dapat dicegah dan aktivitas sehari-hari tetap berjalan nyaman sepanjang kemarau.(*)
Follow