Waibakul, seputar-ntt.com – Di tengah hutan primer Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, Kabupaten Sumba Tengah, Air Terjun Matayangu mengalir setinggi sekitar 75 meter dari celah tebing kapur, menawarkan pemandangan yang jarang ditemukan di destinasi air terjun lain di Nusa Tenggara Timur.
Lokasi air terjun ini berada di Desa Manurara, Kecamatan Katikutana Selatan, sekitar satu jam perjalanan darat dari Waibakul, ibu kota Kabupaten Sumba Tengah. Perjalanan menuju lokasi menuntut kendaraan yang layak, karena medan berbukit dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya mulus.
Yang membuat Matayangu berbeda adalah sumber airnya. Pada musim kemarau, air tidak jatuh dari puncak tebing, melainkan keluar dari lubang-lubang gua di sela dinding batu kapur, seolah memancar langsung dari perut bumi. Fenomena geologis ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang penasaran dengan keunikan alam Sumba.
Air terjun ini berada dalam kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru, kawasan konservasi seluas sekitar 576 kilometer persegi yang melindungi keanekaragaman hayati khas Pulau Sumba. Hutan di sekitarnya menjadi habitat sejumlah burung endemik seperti julang Sumba, yang statusnya terancam kritis.
Perjalanan trekking menuju air terjun bagaikan ekspedisi botani mini. Pengunjung akan melewati deretan pohon besar seperti angsana yang memberikan naungan alami sepanjang jalur. Penurunan menuju lokasi dapat ditempuh sekitar satu jam, sementara pendakian kembali tentu membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
Di bawah guyuran air terjun terdapat kolam alami berwarna biru kehijauan yang kerap mengundang pengunjung untuk berenang. Airnya jernih dan sejuk, kontras dengan udara panas sabana Sumba di luar kawasan hutan.
Fasilitas di lokasi masih sangat minim karena berada di dalam kawasan hutan lindung. Belum tersedia toilet maupun warung makan di titik utama, sehingga pengunjung disarankan membawa bekal air minum dan makanan dari desa terakhir sebelum berangkat.
Tiket masuk ke kawasan ini berkisar Rp20 ribu per orang, dan pengunjung umumnya juga disarankan menggunakan jasa pemandu lokal yang mengenal jalur trekking dengan baik. Biaya pemandu relatif terjangkau dan sekaligus membantu perekonomian warga sekitar.
Sumba Tengah sendiri kian mudah dijangkau beberapa tahun terakhir. Wisatawan dapat terbang ke Sumba melalui Bandar Udara Tambolaka di Sumba Barat atau Umbu Mehang Kunda di Waingapu, lalu melanjutkan perjalanan darat lintas kabupaten dengan menyusuri bukit dan sabana khas Pulau Sumba. Kombinasi perjalanan lintas sabana dan hutan primer dalam satu destinasi membuat Matayangu sering dijadikan bagian paket wisata Sumba Tengah bersama Lapopu, air terjun bertingkat lain di sisi barat kawasan taman nasional yang sama.
Bagi pencinta alam yang ingin merasakan sisi lain Pulau Sumba selain savana dan kuda, Air Terjun Matayangu layak masuk daftar. Kombinasi hutan primer, tebing kapur, dan air yang memancar dari gua adalah pesona yang sulit dilupakan.(*)
Follow