Soe, seputar-ntt.com – Di ketinggian sekitar 2.400 meter di atas permukaan laut, Gunung Mutis berdiri megah sebagai titik tertinggi Pulau Timor bagian barat. Gunung yang terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, ini menyimpan pesona alam yang jarang dimiliki daerah lain: hutan cemara kuno, udara pegunungan yang sejuk, serta panorama bukit yang menghijau sejauh mata memandang.
Secara administratif, kawasan Gunung Mutis berada dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Mutis, salah satu kawasan konservasi penting di Pulau Timor. Dari Kota Kupang, perjalanan menuju kaki gunung ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama sekitar empat hingga lima jam, melewati Kota Soe lalu berlanjut ke Desa Fatumnasi yang menjadi pintu masuk utama pendakian. Jalanan menuju lokasi sudah cukup memadai, meski pengunjung disarankan menggunakan kendaraan yang tangguh karena sebagian tanjakan berbatu.
Daya tarik utama Gunung Mutis terletak pada hutan cemara gunungnya yang tumbuh rapat dan menjulang. Pohon cemara yang usianya ratusan tahun membentuk lanskap khas yang berbeda dari hutan tropis pada umumnya. Kabut tipis yang kerap menyelimuti puncak menambah kesan misterius, sekaligus membuat suhu udara di sekitar kawasan terasa dingin, terutama pada pagi dan malam hari.
Bagi pecinta burung, Gunung Mutis dikenal sebagai salah satu destinasi birdwatching terbaik di NTT. Kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai jenis burung, termasuk sejumlah jenis yang hanya ditemukan di kawasan Pulau Timor. Tidak sedikatali penggemar burung dari luar negeri sengaja datang ke Fatumnasi hanya untuk mengamati dan memotret burung-burung khas pegunungan Timor.
Selain pesona hutan dan burung, Gunung Mutis juga memegang peran penting sebagai daerah tangkapan air. Sejumlah sungai besar di Pulau Timor, di antaranya Sungai Noelmina, bersumber dari kawasan hutan di gunung ini. Karena itu, menjaga kelestarian hutan Mutis berarti menjaga sumber kehidupan bagi masyarakat di hilir yang mengandalkan sungai untuk irigasi sawah dan kebutuhan sehari-hari.
Bagi pendaki, jalur menuju puncak Gunung Mutis tergolong menantang namun tetap ramah bagi pemula yang cukup persiapan. Pendakian umumnya dimulai dari Desa Fatumnasi dan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam jam tergantung kecepatan dan kondisi jalur. Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati hutan cemara, padang rumput, dan beberapa mata air kecil yang jernih.
Fasilitas di kaki gunung kini semakin berkembang. Warga Fatumnasi menyediakan penginapan sederhana berupa homestay milik masyarakat, lengkap dengan kuliner khas pegunungan seperti ubi dan sayuran lokal. Suasana desa yang tenang dan udara pegunungan membuat banyak pengunjung memilih bermalam lebih dari satu hari.
Waktu terbaik mendaki Gunung Mutis adalah pada musim kemarau antara bulan April hingga November, ketika jalur lebih kering dan langit cenderung cerah. Pengunjung tetap disarankan membawa jaket tebal, jas hujan, senter, dan air minum yang cukup, karena perubahan cuaca di pegunungan bisa terjadi dengan cepat.
Dengan kekayaan hutan, keanekaragaman burung, dan perannya sebagai sumber air, Gunung Mutis layak disebut sebagai paru-paru sekaligus permata tersembunyi Pulau Timor. Ekowisata yang tumbuh di Fatumnasi membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekaligus mengingatkan semua pihak bahwa keindahan alam NTT hanya akan bertahan jika terus dirawat dan dijaga bersama.(*)
Follow