Labuan Bajo, seputar-ntt.com – Hanya sekitar seperempat jam perjalanan dengan kapal cepat dari dermaga Labuan Bajo, Pulau Bidadari menyambut pengunjung dengan gundukan bukit berwarna merah keemasan yang berpadu dengan air laut bergradasi turkis. Pulau kecil ini menjadi salah satu destinasi yang hampir selalu masuk dalam daftar kunjungan wisatawan yang berlayar ke kawasan Taman Nasional Komodo, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Luas Pulau Bidadari hanya belasan hektare, sehingga wisatawan dapat mengelilingi pesisirnya dalam waktu relatif singkat. Di satu sisi, deretan pohon bakau tumbuh subur dan menjadi tempat berlindung aneka burung serta kelelawar buah, sementara di sisi lain tebing berbatu menjulang dengan semak kering khas iklim sabana. Kombinasi lanskap tersebut membuat pulau ini kerap dijuluki sebagai salah satu pulau paling fotogenik di perairan Flores Barat.
Daya tarik utama Pulau Bidadari terletak pada titik snorkeling di perairan dangkal di sekitarnya. Terumbu karang dengan warna-warni mencolok masih dapat ditemukan pada jarak yang dekat dari bibir pantai, dihuni ikan badut, ikan betok laut, hingga kima raksasa. Arus di kawasan ini relatif landai, sehingga pemula dan anak-anak pun dapat menikmati aktivitas tersebut dengan pengawasan pemandu.
Berbeda dengan sejumlah pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo yang ditutup untuk aktivitas tertentu demi pemulihan ekosistem, kawasan perairan Pulau Bidadari masih terbuka bagi wisata bahari dengan tetap mewajibkan wisatawan menaati aturan kawasan konservasi. Wisatawan diminta tidak menyentuh atau menginjak terumbu karang, tidak membuang sampah ke laut, dan tidak membawa suvenir apa pun dari kawasan pulau.
Untuk menjangkau Pulau Bidadari, sebagian besar wisatawan menyewa perahu kayu atau kapal speedboat dari pelabuhan Labuan Bajo. Biaya sewa perahu berbagi (sharing) umumnya lebih terjangkau dibandingkan menyewa kapal privat, dan sebagian besar paket wisata satu hari mencantumkan pulau ini sebagai pemberhentian pertama sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Padar atau Pulau Komodo. Perjalanan terbaik dilakukan pada pagi hari ketika permukaan laut masih tenang dan pandangan ke arah perbukitan Flores lebih jernih.
Fasilitas di Pulau Bidadari tergolong minim. Belum tersedia warung maupun penginapan permanen, sehingga wisatawan disarankan membawa bekal makanan dan air minum yang cukup, sekaligus membawa kembali seluruh sampahnya ke Labuan Bajo. Sepasang sandal gunung atau sepatu air akan sangat membantu karena sebagian jalur pendakian bukit berupa batu karang berongga yang licin saat tergenang air laut.
Mendaki bukit kecil di Pulau Bidadari memerlukan sekitar lima belas hingga dua puluh menit. Dari puncaknya, mata wisatawan disuguhkan panorama selebar perairan Selat Flores: garis pantai Labuan Bajo di kejauhan, gugusan pulau-pulau kecil yang mengapung, dan langit senja yang berubah jingga saat sore tiba. Banyak fotografer sengaja mengatur jadwal kunjungan pada jam-jam terakhir sore semata-mata untuk menangkap momen tersebut.
Sebagai destinasi yang berada dalam kawasan konservasi, kelestarian Pulau Bidadari sangat bergantung pada disiplin pengunjung dan nelayan setempat. Kehadiran wisatawan yang tertib membuka mata khalayak bahwa kekayaan bahari NTT bukan sekadar pemandangan, melainkan ekosistem hidup yang menuntut perlakuan bijak. Bagi siapa pun yang merencanakan perjalanan ke Labuan Bajo, berlayar singkat ke pulau kecil ini layak diperhitungkan sebagai bagian dari pengalaman menjelajah surga bahari di ujung barat Flores.(*)
Follow