Waingapu, seputar-ntt.com – Sehelai kain tenun ikat Sumba tidak lahir dalam hitungan hari. Di kampung-kampung tenun seperti Praiyawang dan Pau, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, seorang perempuan bisa menghabiskan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya untuk menyelesaikan satu kain hinggi atau lau dengan motif dan warna yang kompleks.
Tenun ikat Sumba dikenal luas sebagai salah satu kain tradisional paling berkarakter di Indonesia. Motif kuda, buaya, rusa, naga, hingga ornamen mamuli dan marangga tampil kuat di atas bidang kain, dibingkai kombinasi warna merah tanah, biru indigo, hitam, dan kuning gading. Setiap motif bukan sekadar hiasan, melainkan catatan tentang hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan status sosial pemiliknya.
Nama “ikat” merujuk pada teknik pengerjaannya. Sebelum ditenun, helai-helai benang lungsi diikat terlebih dahulu di bagian-bagian tertentu menggunakan tali plastik atau rotan. Bagian yang diikat akan terlindung saat benang dicelup ke pewarna, sehingga membentuk pola negatif yang baru muncul utuh ketika kain selesai ditenun. Semakin rapat ikatan, semakin halus dan detail motif yang dihasilkan.
Penenun Sumba generasi tua masih setia menggunakan pewarna alami. Akar mengkudu menghasilkan merah tua, daun tarum menghasilkan biru kehitaman, sementara kunyit dan kulit pohon lokal memberi sentuhan kuning dan cokelat. Proses pewarnaan alami kerap berlangsung berulang selama berhari-hari agar warnanya mendalam dan tidak mudah pudar, salah satu alasan kain tenun Sumba bertahan puluhan tahun.
Dalam kehidupan sosial masyarakat Sumba, kain tenun menempati posisi yang sulit digantikan. Ia menjadi bagian dari mas kawin, perlengkapan ritual adat, penanda status sosial, hingga kain khusus yang dikenakan saat upacara pelepasan jenazah. Sehelai kain tua warisan keluarga kerap disimpan dan dirawat seperti menyimpan sejarahnya sendiri.
Sektor ini juga menjadi tulung punggung ekonomi perempuan pedesaan. Pengerjaan tenun dilakukan di rumah, berdampingan dengan pekerjaan mengurus keluarga dan ladang. Harga satu kain bervariasi luas, dari ratusan ribu rupiah untuk kain sederhana hingga belasan juta rupiah untuk kain halus dengan pewarna alami yang dikerjakan bertahun-tahun. Bagi banyak keluarga, hasil menjual kain menjadi sumber kas yang penting di luar musim panen.
Tantangan terbesarnya kini adalah regenerasi. Penenun aktif umumnya berusia paruh baya, sementara generasi muda banyak yang enggan menekuni keterampilan yang menuntut kesabaran luar biasa. Persaingan kain berproduksi massal dengan motif cetak dan pewarna sintetis juga menekan harga kain tenun asli di pasaran.
Upaya menjaga tradisi ini terus berjalan, antara lain lewat pelatihan penenun muda, pameran, dan perhatian wisatawan yang datang langsung ke kampung tenun. Wisatawan yang ingin membawa pulang kain tenun disarankan membeli langsung dari penenun atau koperasi setempat, memeriksa kerapatan tenunan dan keaslian pewarna, serta bersedia membayar sesuai lama pengerjaannya.
Sehelai tenun ikat Sumba pada akhirnya bukan sekadar kain, melainkan catatan waktu yang ditenun benang demi benang. Selama tangan-tangan penenun di kampung-kampung Sumba masih bergerak, warisan budaya NTT itu terus hidup, menemani perjalanan sebuah adat yang menolak untuk dilupakan.(*)
Follow