Kupang, seputar-ntt.com – Medan jalan di Nusa Tenggara Timur menyimpan tantangan tersendiri. Ratusan kilometer jalur lintas kabupaten harus menembus rangkaian pegunungan, tikungan tajam, dan tanjakan panjang yang menghubungkan Kota Kupang dengan Soe, Atambua, hingga Waingapu. Bagi pengendara, terutama pemula, memahami karakter jalur pegunungan NTT adalah kunci utama keselamatan di perjalanan.
Berbeda dengan jalan datar di perkotaan, jalur pegunungan seperti ruas Kupang–Soe atau Ende–Bajawa menuntut konsentrasi penuh. Kontur jalan naik-turun, selekong berkelok, serta kondisi aspal yang kerap berlubang memaksi pengemudi menyesuaikan kecepatan. Data kecelakaan lalu lintas di wilayah pegunungan NTT secara konsisten menunjukkan kecepatan berlebih dan rem blong sebagai penyebab utama.
Persiapan kendaraan menjadi langkah pertama yang tidak boleh dilewati. Sebelum berangkat, pastikan kondisi rem dalam keadaan prima, ban memiliki alur yang cukup, dan tekanan angin sesuai standar pabrikan. Cairan pendingin radiator juga wajib dicek karena tanjakan panjang di rute seperti Molo atau Wae Mese membuat mesin bekerja jauh lebih keras dibanding jalan biasa.
Di sisi teknik berkendara, gunakan gigi rendah saat menuruni turunan panjang. Banyak pengendara mengandalkan rem secara terus-menerus, padahal engine brake justru lebih aman untuk menjaga kestabilan laju kendaraan. Menekan rem terlalu lama pada turunan panjang berisiko membuat kampas rem panas dan kehilangan daya cengkeram, kondisi yang oleh mekanik sering disebut rem blong.
Cuaca di dataran tinggi NTT juga berubah cepat. Kabut tebal kerap menyelimuti ruas Wolowaru hingga detik-ditik awal pagi atau menjelang sore, sementara hujan lokal bisa turun tiba-tiba di musim pancaroba. Ketika jarak pandang terbatas, nyalakan lampu utama, kurangi kecepatan, dan jangan pernah mencoba mendahului kendaraan lain di tengah selimut kabut.
Waktu keberangkatan turut menentukan kenyamanan perjalanan. Pengendara berpengalaman biasanya berangkat pagi hari agar tiba di tujuan sebelum gelap. Jalur pegunungan NTT umumnya minim penerangan jalan, dan selokan kiri-kanan sering sulit terlihat setelah matahari terbenam. Bila terpaksa melaju malam, turunkan kecepatan dan perbesar jarak aman dengan kendaraan di depan.
Kondisi fisik pengemudi tidak kalah pentingnya. Perjalanan Kupang–Atambua misalnya bisa memakan waktu lebih dari sepuluh jam dengan kontur jalan berat. Istirahat minimal setiap dua jam berkendara sangat dianjurkan untuk menjaga fokus. Rambu-rambu pemberhentian dan warung pinggir jalan di sepanjang ruas lintas TTS bisa dimanfaatkan sejenak untuk meregangkan badan.
Terakhir, siapkan cadangan komunikasi. Sinyal telepon di sejumlah ruas pegunungan NTT masih belum stabil, sehingga menyiapkan nomor darurat, power bank, dan air minum cukup menjadi kewajiban. Membawa ban serep beserta perkakas lengkap juga menyelamatkan situasi ketika ban bocor di tengah rute yang jauh dari bengkel.
Pada akhirnya, jalur pegunungan NTT bukan sekadar tantangan, melainkan juga jendela keindahan yang jarang dimiliki daerah lain. Sabana yang membentang, lembah dalam, dan hamparan hutan pinus di ketinggian menjadi ganjaran bagi pengendara yang menempuhnya dengan hati-hati. Kesabaran di atas aspal berkelok itulah yang menjadikan perjalanan di NTT selalu meninggalkan kesan mendalam.(*)
Follow