Ikut Kegiatan INOVASI, Ini Keluh-Kesah Guru di Sumba Timur

Date:

Share:

Waingapu, seputar-ntt.com – Sejumlah guru pengajar di abupaten Sumba Timur secra jujur mengakui berbagai kelemahan mereka, mulai dari sulitnya membuat media sendiri hingga kurang memahami kurikulum 13. Pengeluhan tersebut disampaikan oleh para guru saat mengikuti pendiikan yang dilakukan oleh INOVASI bagi para guru yang dipusatkan di Kabupaten Sumba Timur. INOVASI adalah sebuah program Pendidikan yang dibiayai oleh pemerintah Australia.

INOVASI melakukan pendidikan dan pelatihan bagi para guru untuk mengenal kelemahan-kelemahan yang terjadi selama ini dalam pembelajaran. Bukan untuk dihukumi,  atau dinilai, tapi untuk dicari jalan keluarnya. Kekurangan atau kelemahan tersebut dianggap sebagai masalah yang memiliki akar masalah dan mereka juga diharapkan bisa  merancang sendiri kegiatan untuk mengatasi akar masalahnya. Kegiatan program yang  diharapkan bisa membuat mereka lebih siap,  mampu dan nyaman dalam mengajar.

“Saya belum mampu mengelola kelas dengan baik ketika anak-anak ribut. Saya jarang membuat media sendiri yang bisa mengefektifkan pembelajaran. Berkaitan dengan kurikulum, saya masih kurang memahami cara penilaian dengan memakai kurikulum 13,” ujar bu Yuli, salah satu guru kelas awal dari salah satu sekolah dasar di Kecamatan Hahar, Sumba Timur, 15  Februari 2018

Lain lagi dengan Ibu Kartini, “Saya kemarin tidak melakukan apersepsi atau awalan mengajar. Saya langsung masuk ke pembelajaran inti, padahal apersepsi itu penting untuk mengingat kembali pembelajaran sebelumnya. Saya  waktu itu kurang mempersiapkan diri sebelum mengajar,” ujarnya polos.

Ibu Mardiana, pengajar kelas satu sekolah dasar mengungkapkan bahwa dari dua puluh sembilan orang muridnya,  hanya empat yang sudah benar-benar lancar membaca. Lainnya masih terbata-bata. Ia merasa belum memahami secara benar bagaimana mengajar secara efektif  yang membuat  anak bisa menyambungkan huruf dan membaca lancar dengan cepat.

Namun dibalik ungkapan kejujuran tersebut, ada perjuangan tulus yang mereka lakukan untuk sekolah mereka.  Mereka semua adalah guru honorer yang sudah mengajar kelas awal lebih dari  sepuluh tahun, dengan honor yang amat minim, di bawah 300 ribuan.

Ibu Mardiana , misalnya, sudah mengajar selama 13 tahun. Awalnya di hanya lulus SMA dan diminta oleh sekolah untuk mengajar karena sekolah kekurangan guru. Ia langsung mengatakan siap. “Jadi waktu mengajar, karena saya hanya lulusan SMA, saya asal mengajar saja. Saya tidak tahu waktu itu metode-metode mengajar,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kompetensinya, ia melanjutkan kuliah PGSD jarak jauh yang ia tempuh  mulai 2006 dan selesai pada tahun 2013 atau selama tujuh tahun.  Biaya kuliahnya 750 ribu per bulan. Uang honor yang ia terima per triwulan dari sekolah sebenarnya tidak cukup untuk membiayai hidup dan SPPnya tersebut. Akhirnya ia mengajar sambil jualan kue. Ia sempat ambil cuti semester beberapa kali karena tak kuat dengan biaya kuliahnya.

Demikian juga ibu Kartini.  Ia sudah menjadi guru honorer 12 tahun. Mulai tahun 2005. Gaji honorernya  juga tak cukup untuk membayar kehidupan sehari-hari dan kuliah S1 PGSD yang ia tempuh, sehingga beberapa kali mengambil cuti semester.  Hal yang sama juga terjadi pada Ibu Yuli.

Mereka adalah para guru kelas awal yang memiliki dedikasi tinggi untuk membuat anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik. Tanpa banyak digaji, dengan beban kehidupan modern yang amat tinggi, mereka tetap bekerja sepenuh hati dan tetap melanjutkan kuliah untuk meningkatkan kapasitas mereka. Mereka sudah menisbahkan dan mendedikasikan dirinya untuk mencerdaskan anak didik.

Mereka juga amat haus pembelajaran dan pelatihan agar bisa meningkatkan kompetensi mereka yang mereka rasa masih sangat kurang. Di kecamatan Hahar, tempat sekolah tersebut, internet masih sangat susah dicapai. Sinyal telepon hanya bisa dicapai di beberapa titik  tertentu saja sehingga informasi pendidikan juga susah diakses.

“Saya di sekolah harus mengajar memakai K13, sedangkan saya belum pernah menerima pelatihan tersebut dan juga susah mendapatkan akses informasi. Akhirnya untuk mengatasi kelemahan saya, saya belajar dari teman saya, ibu Servina,” ujar ibu Yuli.

Mereka juga mengatakan bahwa pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG), sebagai ajang untuk meningkatkan kompetensi guru,  kurang rutin dilakukan oleh sekolah. Hal ini, menurut mereka kemungkinan karena kurangnya dana. Di sekolah mereka, KKG dilakukan rata-rata cuma satu kali per satu semester.

“Oleh karena itu, kami berharap INOVASI, setelah kegiatan eksplorasi  masalah-masalah kami ini,  melatih kami untuk membuat kami  lebih kreatif, mengajar dan mengelola kelas dengan lebih baik, ” harap Ibu Mardiana.

Program INOVASI di NTT dimulai pada bulan Juli 2017. Penandatanganan MoUnya  dengan  pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dilakukan bulan November 2017. Program ini akan dilaksanakan sampai tahun 2019.

“Kita berharap semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat, memikirkan nasib guru. Peningkatan kompentesi dan taraf hidup mereka sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak-anak di sekolah,” ujar Hironimus Sugi, Provincial Manager INOVASI untuk NTT di Sumba Timur. (*jrg)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...