Jakarta, seputar-ntt.com — Di tengah kabar duka yang menyelimuti Nusa Tenggara Timur akibat gempa bumi yang mengguncang sejumlah wilayah di Flores, sebuah kabar membanggakan datang dari Jakarta.
Atanasius Meyllano Frans Yogar, pelajar SMA Katolik Giovanni Kupang yang akrab disapa Delano, dipercaya menjadi Komandan Kelompok (Danpok) 8 Paskibraka Nasional pada rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kepercayaan itu bukan sekadar prestasi pribadi. Bagi Delano, tugas tersebut menjadi kesempatan membawa nama NTT ke panggung nasional, sekaligus mempersembahkan kebanggaan bagi masyarakat di tanah kelahirannya.
Dengan sikap tegap dan penuh percaya diri, Delano memimpin Kelompok 8 yang terdiri atas 38 anggota Paskibraka Nasional dalam Upacara Penurunan Bendera Pusaka di Istana Negara, Jakarta, Senin (17/8/2026) sore.
Namun, di balik ketegasan langkahnya di lapangan, tersimpan perasaan yang tidak sederhana.
Di tengah masa latihan dan karantina, Delano bersama anggota Paskibraka Nasional lainnya menerima kabar tentang gempa bumi yang mengguncang Flores, NTT. Bencana itu turut mengguncang perasaannya karena terjadi di daerah asalnya.
“Walaupun kami sempat terpukul dengan bencana gempa yang terjadi di Flores, kami tetap berusaha menjalankan tugas dan terus berlatih untuk memberikan yang terbaik,” ujar Delano kepada wartawan, Senin (17/8/2026) malam.
Bagi Delano, menjalankan tugas negara dalam situasi tersebut justru menjadi dorongan untuk memberikan penampilan terbaik.
Ia menyadari bahwa di tengah kesedihan masyarakat Flores, ada harapan yang harus tetap dijaga. Karena itu, ia memilih tetap berdiri tegap, menjalankan setiap instruksi, dan menyelesaikan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
“Semua ini bisa terjadi karena disiplin dalam latihan serta doa dan dukungan seluruh masyarakat NTT,” katanya.
Kabar Delano dipercaya menjadi Danpok 8 disambut haru oleh keluarganya di NTT.
Sang ayah, Kristovorus Umbu Yogar, mengaku bangga sekaligus terharu melihat putranya mendapat kepercayaan menjalankan salah satu tugas bergengsi pada peringatan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Umbu Yogar, menjadi bagian dari Paskibraka Nasional merupakan kehormatan yang tidak datang kepada semua anak bangsa. Terlebih, Delano dipercaya memimpin salah satu kelompok dalam pasukan tersebut.
“Sebagai orang tua, kami merasa bangga atas apa yang diraih anak kami. Semua bisa terjadi karena doa serta dukungan seluruh masyarakat NTT,” ungkapnya.
Ia mengatakan perjalanan Delano hingga dipercaya menjadi Danpok tidak diperoleh secara instan. Ada latihan panjang, kedisiplinan, ketahanan fisik dan mental, serta proses pembentukan karakter yang harus dilalui.
Karena itu, pencapaian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kebanggaan keluarga.
Umbu Yogar berharap keberhasilan putranya dapat menjadi inspirasi bagi pelajar dan generasi muda NTT lainnya untuk berani bermimpi lebih tinggi dan tidak takut bersaing di tingkat nasional.
“Prestasi tidak datang secara instan,” katanya.
Kisah Delano menjadi warna tersendiri dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Ketika sebagian masyarakat Flores masih menghadapi dampak bencana gempa, seorang putra NTT justru berdiri di halaman Istana Negara membawa semangat daerahnya ke panggung nasional.
Ia tidak membawa kabar tentang gempa. Ia membawa kabar tentang keteguhan.
Dari barisan Paskibraka Nasional, Delano menunjukkan bahwa duka tidak selalu harus menjadi alasan untuk berhenti. Dalam keadaan sulit sekalipun, tanggung jawab tetap harus dituntaskan dan harapan harus terus dinyalakan.
Bagi NTT, langkah Delano di Istana Negara menjadi lebih dari sekadar sebuah prestasi.
Ia adalah cerita tentang seorang anak muda yang berdiri tegap untuk membawa nama daerahnya, sementara tanah kelahirannya sedang berduka.
Dari Kupang menuju Jakarta, dari tanah Timor menuju Istana Negara, Delano menghadirkan satu pesan sederhana: NTT boleh berduka, tetapi semangat anak mudanya tidak boleh padam. (*)
Follow