Kampung Adat Wae Rebo, Perjalanan Dua Jam Menuju Rumah Leluhur di Atas Awan

Date:

Share:

Ruteng, seputar-ntt.com – Tersembunyi di ketinggian pegunungan Manggarai, Kabupaten Manggarai, berdiri sebuah kampung adat yang telah berusia ratusan tahun dan kini menjadi salah satu destinasi budaya paling dicari di Nusa Tenggara Timur, yakni Kampung Adat Wae Rebo.

Kampung ini berada di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mese, dan hanya dapat dicapai dengan berjalan kaki menembus hutan dan perbukitan selama sekitar dua jam dari titik akhir kendaraan. Perjalanan pendakian yang menantang justru menjadi bagian dari daya tariknya.

Di dalam kampung berdiri tujuh rumah adat berbentuk kerucut yang disebut Mbaru Niang. Konstruksi kayu dan ijuk ini merupakan arsitektur tradisional Manggarai yang hampir punah, dan restorasinya pernah mendapat penghargaan dari UNESCO bidang warisan budaya.

Bagi masyarakat setempat, Wae Rebo bukan sekadar objek wisata, melainkan rumah leluhur yang menyimpan tata kehidupan, ritual, dan sistem kekerabatan yang masih dijalankan hingga kini. Para pengunjung yang menginap akan disambut dengan kopi dan makanan hasil kebun oleh warga.

Kehidupan di Wae Rebo masih sangat sederhana. Listrik baru menjangkau sebagian kebutuhan, sinyal telepon terbatas, dan matahari terbenam membuat kampung gelap total. Justru dalam keterbatasan itulah banyak wisatawan menemukan ketenangan yang sulit didapat di kota.

Kapasitas menginap terbatas karena jumlah rumah adat yang sedikit, sehingga wisatawan disarankan memesan tempat jauh hari, terutama pada musim ramai kunjungan. Malam di dalam Mbaru Niang bersama warga dan api unggun menjadi pengalaman yang paling diingat para pengunjung.

Pendapatan dari pariwisata kampung dikelola secara gotong royong oleh warga untuk kebutuhan bersama, mulai dari perawatan rumah adat hingga biaya pendidikan anak-anak kampung. Model pengelolaan seperti ini menjadikan Wae Rebo sering dijadikan contoh desa wisata berbasis masyarakat.

Perjalanan dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, menuju titik pendakian memakan waktu berkendara sekitar tiga jam. Kombinasi perjalanan darat, hutan, dan kabut pagi menjadikan Wae Rebo destinasi lengkap bagi pencinta alam sekaligus budaya.(*)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...