Kupang, seputar-ntt.com – Kasus demam berdarah dengue atau DBD di Nusa Tenggara Timur umumnya meningkat pada masa pergantian musim, ketika suhu dan curah hujan berubah secara bergantian. Yang jarang disadari warga, sebagian besar sarang nyamuk penular penyakit ini justru ditemukan di lingkungan rumah dan pekarangan sendiri, bukan di lokasi yang jauh dari permukiman.
DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini aktif menggigit pada siang hari, terutama pada pagi dan sore, serta berkembang biak pada air bersih yang menggenang dan terdiam beberapa hari.
Tempat favorit nyamuk bertelur sangat beragam, mulai dari bak mandi, tandon air, vas bunga, tempat minum hewan peliharaan, hingga kaleng, ban bekas, dan wadah lain yang menampung air hujan. Seekor nyamuk betina mampu menghasilkan ratusan telur sepanjang umurnya, dan telur tersebut dapat menetas dalam hitungan hari begitu air tersedia.
Langkah pencegahan yang paling dianjurkan adalah penerapan tiga M plus, yaitu menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat tandon atau penampungan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air. Langkah ini dilengkapi dengan memasang kelambu saat tidur, menggunakan losion antinyamuk, dan menabur larvasida sesuai petunjuk pemakaian.
Warga juga perlu mengenali gejala dini DBD agar penanganan tidak terlambat. Tanda yang umum muncul antara lain demam tinggi yang timbul mendadak, nyeri kepala terutama di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, hingga bintik merah pada kulit. Demam yang tidak membaik setelah tiga hari, disertai muntah berulang, perdarahan gusi, atau rasa lemas yang semakin berat, merupakan pertanda untuk segera memeriksa diri ke fasilitas kesehatan.
Pemeriksaan dini di puskesmas atau klinik memungkinkan deteksi cepat dan penanganan yang tepat. Selama masa pemulihan, penderita dianjurkan banyak minum air putih untuk mengganti cairan yang hilang dan menggunakan penurun panas sesuai anjuran tenaga kesehatan, bukan obat yang diambil sembarangan tanpa keterangan dosis.
Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang paling rentan mengalami DBD berat, sehingga pemeriksaan sarang nyamuk di rumah sebaiknya dilakukan lebih sering bila ada anggota keluarga dari kedua kelompok tersebut. Selain di tingkat rumah, pencegahan paling efektif juga berlangsung di tingkat lingkungan. Gotong royong membersihkan pekarangan, saluran air, dan menyingkirkan barang bekas yang menampung genangan perlu dilakukan secara berkala, misalnya satu kali dalam seminggu, sebab siklus hidup nyamuk dari telur hingga dewasa berlangsung sekitar tujuh hingga sepuluh hari.
Pada akhirnya, seluruh langkah tersebut hanya menuntut kedisiplinan singkat setiap pekan dan nyaris tanpa biaya, jauh lebih murah dibandingkan biaya berobat, rawat inap, dan pemulihan bila seseorang sudah terjangkit. Mencegah demam berdarah selalu lebih mudah daripada mengobatinya, dan langkah pertamanya selalu dimulai dari pekarangan rumah sendiri.(*)
Follow