Kupang, seputar-ntt.com – Pergantian musim dari kemarau ke penghujan di Nusa Tenggara Timur kerap membawa gelombang keluhan batuk dan pilek di tengah masyarakat. Perubahan suhu udara yang ekstrem antara siang yang panas dan malam yang berangin menjadi pemicu utama menurunnya daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia.
Pola ini biasanya meningkat di periode pancaroba, ketika kelembapan udara naik sementara suhu tetap berubah-ubah sepanjang hari. Anak-anak usia sekolah menjadi kelompok yang paling rentan karena intensitas interaksi di ruang kelas dan lapangan bermain yang tinggi, sehingga penularan virus menjadi lebih mudah.
Tenaga kesehatan di sejumlah puskesmas di Kota Kupang umumnya mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh gejala ringan. Batuk dan pilek yang berlarut lebih dari satu minggu, disertai demam tinggi atau sesak napas, sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat agar penyebabnya dapat dipastikan.
Langkah pencegahan paling sederhana tetap menjaga kebersihan tangan dengan mencuci memakai sabun, terutama setelah beraktivitas di tempat umum. Kebiasaan menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin memakai siku bagian dalam juga terbukti efektif menekan penyebaran kuman pernapasan.
Asupan cairan dan gizi seimbang memainkan peran penting pada masa pancaroba. Masyarakat dianjurkan memperbanyak air putih, buah-buahan lokal yang kaya vitamin C seperti jeruk dan mangga, serta istirahat yang cukup agar sistem imun bekerja optimal menghadapi perubahan cuaca.
Menghindari paparan langsung terhadap debu dan asap juga perlu diperhatikan, terutama bagi pekerja lapangan. Penggunaan penutup hidung sederhana saat berkendara sepeda motor atau bekerja di area berdebu dapat mengurangi iritasi saluran napas yang memperparah batuk.
Untuk keluarga dengan anak kecil, orang tua disarankan tidak memberikan obat batuk atau antibiotik secara sendiri tanpa resep. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat justru berisiko menimbulkan resistensi, sementara sebagian besar batuk pilek disebabkan virus yang sembuh dengan istirahat dan perawatan suportif.
Rumah tangga juga bisa membantu memutus rantai penularan dengan memastikan sirkulasi udara dan cahaya matahari masuk ke dalam ruangan. Barang-barang seperti handuk dan peralatan makan milik anggota keluarga yang sedang sakit sebaiknya dicuci dan dipisahkan agar kuman tidak berpindah ke anggota keluarga lain.
Musim pancaroba memang tak bisa dihindari, tetapi kesiapan tubuh dan kebersihan lingkungan sepenuhnya berada dalam kendali masyarakat. Dengan kebiasaan sederhana yang dijalankan konsisten, keluhan batuk dan pilek di tengah keluarga dapat ditekan seminimal mungkin sepanjang perubahan musim di NTT.(*)
Follow