Kupang, seputar-ntt.com – Suhu udara di Nusa Tenggara Timur diprakirakan mencapai 35 derajat Celsius pada Jumat (23/10/2026) siang, di tengah kemarau panjang yang mengeringkan vegetasi di sebagian besar wilayah provinsi ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sekaligus memperingatkan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sto Nenot’ek, menyampaikan suhu udara di NTT berkisar 20 hingga 35 derajat Celsius. Sementara di Manggarai, Ngada, dan sebagian wilayah dataran tinggi lainnya, suhu diprakirakan berkisar 18 hingga 29 derajat Celsius.
(“Suhu udara di NTT: 20-35 derajat Celsius,” katanya dalam laporan tertulis yang dikutip dari Media Indonesia, Jumat.)
Untuk kondisi langit, cuaca pada pagi hingga sore hari umumnya cerah hingga berawan, dengan potensi hujan ringan di Borong dan Ruteng. Pada malam hari cuaca diprakirakan cerah hingga berawan tebal, sedangkan dini hari cerah berawan hingga berawan tebal. Angin bertiup dari timur hingga selatan dengan kecepatan 5 hingga 20 kilometer per jam.
Yang lebih perlu diwaspadai adalah peta Fine Fuel Moisture Code (FFMC) BMKG. Berdasarkan peta tersebut, sebagian besar wilayah NTT berada dalam kategori sangat tinggi untuk tingkat kemudahan bahan bakar halus terbakar. Kondisi ini tampak pada sejumlah bagian Pulau Timor, Sumba, Flores, dan beberapa pulau lainnya.
FFMC merupakan indikator tingkat kekeringan bahan bakar halus di permukaan, seperti rumput, dedaunan kering, dan ranting kecil, yang memengaruhi kemudahannya menyala. Peta ini bukan penanda lokasi kebakaran yang sedang berlangsung, melainkan gambaran kondisi bahan bakar yang dapat mendukung penyalaan api.
Stasiun Meteorologi El Tari Kupang mengingatkan bahwa cuaca panas dan vegetasi kering perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Pembakaran untuk membuka lahan, membakar sampah di dekat semak-semak, maupun membuang puntung rokok sembarangan dapat menjadi sumber penyalaan api.
Masyarakat juga diimbau menghindari pembakaran terbuka dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api atau kepulan asap. Kewaspadaan dini menjadi kunci untuk mencegah api meluas, terutama di wilayah dengan tingkat kemudahan bahan bakar halus terbakar yang tinggi.
Bagi petani dan peternak di wilayah dataran tinggi maupun pesisir, kondisi kemarau ekstrem ini juga menuntut pengelolaan lahan yang lebih hati-hati. Sekecil apa pun percikan api di atas rumput kering dapat berubah menjadi titik awal kebakaran yang sulit dikendalikan saat angin bertiup kencang.(*)
Follow