Waingapu, seputar-ntt.com – Kampung adat Ratenggaro di Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, menyimpan salah satu rumah adat tertinggi di Indonesia, dengan atap menjulang menjembatani tanah dan langit Pulau Sumba.
Dari Kota Tambolaka, perjalanan darat menuju kampung ini menempuh sekitar dua hingga tiga jam. Sepanjang rute, lanskap sabana dan perbukitan kering berubah menjadi hamparan padang rumput yang bergelombang, pemandangan khas bagian barat daya Pulau Sumba yang jarang dijumpai di daerah lain di Nusa Tenggara Timur.
Yang membuat Ratenggaro istimewa adalah rumah-rumah adatnya yang disebut uma mbatang. Konstruksi kayu dan bambu berdiri tanpa paku, diikat dengan tali dari ijuk dan serat pohon. Tinggi bangunan utamanya dapat mencapai belasan meter, menjadikannya salah satu bangunan rumah adat tertinggi yang masih berdiri dan difungsikan di Indonesia.
Bagian puncak atap yang menjulang tersebut bukan sekadar estetika. Dalam kepercayaan masyarakat Marapu, bentuk atap yang meruncing melambangkan hubungan manusia dengan leluhur dan pencipta. Semakin tinggi atapnya, semakin besar pula penghormatan yang diberikan kepada para leluhur yang dipercaya menempati alam di atas.
Fasilitas bagi wisatawan di kawasan ini berkembang bertahap. Beberapa rumah homestay sederhana milik warga sudah menerima tamu, dan warung kecil menjual makanan serta minuman di dekat area perkampungan. Meski demikian, pengunjung disarankan membawa bekal air minum dan perlengkapan sendiri, terutama bila berencana melanjutkan perjalanan ke objek wisata lain di sekitar Kodi.
Batu-batu megalitik yang tersusun rapi di halaman kampung menambah bobot sejarah tempat ini. Susunan batu besar tersebut merupakan warisan tradisi penguburan masyarakat Sumba yang telah berlangsung ratusan tahun. Bagi pengunjung, formasi batu ini menjadi bukti nyata bahwa Ratenggaro bukan sekadar destinasi foto, melainkan ruang hidup yang masih menggelar ritual dan upacara adat hingga kini.
Kehidupan warga kampung juga tetap mengikuti irama tradisi. Kain tenun ikat ditenun perempuan di teras rumah, sementara sebagian laki-laki merawat kuda dan ternak di sekitar perkampungan. Interaksi dengan penduduk yang ramah kerap menjadi kesan paling membekas bagi wisatawan yang datang.
Bagi calon pengunjung, sebaiknya datang pada pagi hingga siang hari karena listrik dan fasilitas akomodasi di sekitar kampung masih terbatas. Pengunjung juga dianjurkan menghormati aturan adat setempat, antara lain meminta izin sebelum memotret area tertentu dan tidak memanjat bangunan rumah adat tanpa persetujuan pemilik.
Wisatawan yang ingin melihat suasana puncak dapat merencanakan kunjungan pada musim upacara adat, ketika kampung menggelar ritual dengan pakaian tradisional lengkap. Namun di luar musim upacara, Ratenggaro tetap layak dikunjungi karena keaslian arsitektur dan keindahan sabana di sekelilingnya tidak mengenal musim.
Keberadaan kampung seperti Ratenggaro adalah pengingat bahwa kekayaan NTT tidak hanya terletak pada pantai dan gugusan pulau. Warisan arsitektur dan tata ruang yang lahir dari kepercayaan masyarakatnya memiliki daya tarik yang setara, dan menjaganya adalah cara paling jujur untuk memastikan generasi berikutnya tetap mengenal akar budayanya.(*)
Follow