Kupang, seputar-ntt.com – Perubahan cuaca menuju musim hujan di sejumlah daerah Nusa Tenggara Timur kerap membawa gangguan pencernaan ringan, mulai dari perut kembung, mulas, hingga buang air besar tidak menentu. Pergantian iklim yang tidak menentu membuat pola makan masyarakat ikut berubah, sementara kelembapan udara yang tinggi mempercepat pertumbuhan bakteri pada makanan.
Gangguan pencernaan pada musim pancaroba umumnya dipicu dua hal besar: makanan yang terkontaminasi dan menurunnya daya tahan tubuh. Makanan yang dibiarkan di suhu ruang terlalu lama, jajanan yang tidak diolah dengan bersih, serta air minum yang tidak dimasak menjadi pintu masuk paling sering bagi kuman penyebab diare dan mules.
Langkah paling dasar yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan tangan. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir sebelum makan dan setelah dari toilet terbukti memotong rantai penularan sebagian besar penyakit pencernaan. Kebiasaan sederhana ini sering dilewatkan, terutama pada anak-anak yang aktif bermain di luar rumah.
Sebaiknya pula masyarakat lebih selektif memilih jajanan. Warung makan yang menyimpan lauk di ruang terbuka tanpa penutup, es batu yang dibuat dari air mentah, serta makanan matang yang sudah menginap sebaiknya dihindari. Pada kelembapan tinggi, makanan matang hanya aman dikonsumsi kurang lebih empat jam jika tidak disimpan dengan benar.
Air minum juga perlu diperhatikan. Di banyak wilayah NTT, air baku belum sepenuhnya layak diminum langsung. Merebus air hingga mendidih selama beberapa menit masih menjadi cara paling murah dan efektif untuk memastikan air aman dikonsumsi, terutama untuk anak-anak dan lansia yang pencernaannya lebih sensitif.
Pola makan juga perlu dijaga tetap teratur. Cuaca dingin dan mendung sering membuat orang malas bergerak, sehingga proses pencernaan melambat. Mengonsumsi cukup serat dari sayur dan buah lokal, membatasi makanan terlalu pedas atau berlemak, serta makan dalam porsi kecil tapi rutin membantu lambung bekerja lebih ringan.
Untuk keluarga dengan balita, orang tua perlu waspada terhadap tanda dehidrasi, yaitu anak menjadi lemas, bibir kering, mata cekung, dan frekuensi buang air kecil menurun. Jika anak mengalami diare berulang disertai muntah dan demam, jangan menunggu terlalu lama sebelum membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Oralit tetap menjadi pertolongan pertama yang wajib tersedia di rumah. Memberi oralit sedikit demi sedikit namun sering dapat mencegah dehidrasi sebelum anak sempat mendapat penanganan tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, gangguan pencernaan musim hujan bukan hal yang harus ditakuti, melainkan cukup dicegah dengan kebiasaan bersih dan makanan yang diolah dengan benar. Disiplin kecil sehari-hari jauh lebih murah daripada biaya berobat ketika tubuh sudah terserang.
Musim hujan tahun ini diprakirakan datang bergantian dengan panas terik. Menyiapkan diri sejak dini dengan pola hidup bersih adalah cara paling jitu agar keluarga tetap sehat sepanjang musim.(*)
Follow