Kalabahi, seputar-ntt.com – Kampung Takpala di Kecamatan Leona, Kabupaten Alor, menjadi contoh bahwa desa adat di Nusa Tenggara Timur tidak hanya berhenti sebagai destinasi foto, tetapi juga ruang hidup bagi budaya yang terus dirawat. Kampung yang berdiri di kaki bukit dengan pemandangan ke Teluk Kalabahi ini rutin dikunjungi wisatawan yang ingin melihat rumah adat Alor.
Rumah-rumah di Takpala berbentuk bulat dengan dinding anyaman dan atap jerami berbentuk kerucut, disebut wua laki-laki dan wua perempuan menurut pembagian tradisional masyarakat Abui, salah satu suku besar di pulau Alor. Struktur bangunan dibangun tanpa paku, mengandalkan ikatan kayu dan tali yang diwariskan lintas generasi.
Perjalanan menuju kampung ini relatif mudah, sekitar satu jam berkendara dari pusat Kalabahi dengan jalanan menanjak di bagian akhir. Pengunjung disambut warga di pintu kampung dan biasanya dipandu berkeliling oleh anak muda desa yang juga aktif dalam kelompok kesenian setempat.
Salah satu momen yang paling ditunggu adalah pertunjukan tari lego-lego, tarian massal masyarakat Abui yang dibawakan dengan ceng-ceng logik di kedua tangan penari. Tarian ini biasanya dipentaskan saat penyambutan tamu penting maupun ritual adat, dan setiap gerakannya menyimpan makna penghormatan terhadap leluhur dan tanah yang dihuni.
Di samping arsitektur dan tarian, Takpala juga dikenal melalui alat musik tradisional gong budak, gong perunggu yang ditabuh dengan stik. Instrumen ini masih digunakan dalam upacara adat dan menjadi bukti jalur perdagangan kuno yang pernah menghubungkan Alor dengan dunia luar, karena bahan perunggunya didatangkan dari luar pulau.
Pendapatan wisata desa dikelola dengan skema bagi hasil untuk kebutuhan bersama, seperti perbaikan rumah adat dan kegiatan anak muda. Model sederhana ini membuat warga punya kepemilikan langsung atas keberlangsungan kampung sebagai daya tarik wisata, bukan sekadar menjadi objek foto.
Bagi pengunjung, etika yang berlaku hampir sama dengan desa adat lain di NTT: minta izin sebelum memotret upacara, berpakaian sopan, dan menghormati area yang dianggap keramat. Sedikit kepedulian semacam ini sangat dihargai warga dan menjaga hubungan wisatawan dengan masyarakat tetap hangat.
Waktu berkunjung paling nyaman adalah musim kemarau ketika jalur ke kampung kering dan pemandangan teluk terlihat jernih. Sepanjang jalan menuju Takpala, perbukitan Leona memperlihatkan lanskap pedesaan Alor yang masih hijau berbatu, kontras dengan laut biru di kejauhan.
Takpala mengingatkan bahwa pariwisata Alor tidak berhenti di dunia bawah laut. Di atas bukit, ada masyarakat yang memilih tetap tinggal dalam rumah bundar mereka sambil membuka pintu bagi dunia luar.(*)
Follow