Kupang, seputar-ntt.com – Se’i, olahan daging asap khas Nusa Tenggara Timur, kembali menjadi sorotan pecinta kuliner daerah seiring menjamurnya rumah makan penyedia menu tersebut di Kota Kupang dan sejumlah kota lain di NTT. Hidangan berbahan dasar daging sapi atau babi yang diasap dengan kayu kosambi ini telah menjadi identitas kuliner yang membedakan NTT dari daerah lain di Indonesia.
Se’i dibuat dengan cara mengasap daging yang telah diiris memanjang dan dilumuri bumbu sederhana, umumnya garam dan sedikit bumbu rempah, di atas bara api kayu kosambi selama beberapa jam. Proses ini menghasilkan daging berwarna kemerahan dengan aroma asap yang khas, bertekstur lembut di dalam namun sedikit kering di permukaan. Kayu kosambi dipilih karena dipercaya memberikan aroma paling baik dibanding kayu lain.
Di Kota Kupang, se’i lazim disajikan bersama nasi putih dan sayur bening, atau dengan sambal lu’at yang pedas. Se’i sapi menjadi menu paling banyak dicari, sementara se’i babi lebih umum di sebagian wilayah dengan tradisi memelihara babi. Perpaduan daging asap, nasi hangat, dan sambal membuat hidangan ini cocok dikonsumsi kapan saja, terutama saat cuaca dingin.
Sejak beberapa tahun terakhir, rumah makan khusus se’i bermunculan bukan hanya di Kupang, tetapi juga di Ende, Waingapu, Atambua, hingga di luar pulau seperti Bali dan Jakarta. Fenomena ini menandakan daya tarik kuliner NTT mulai menjangkau pasar yang lebih luas. Sejumlah pelaku usaha bahkan mulai menjual se’i kemasan vakum sebagai oleh-oleh.
Dari sisi ekonomi, kehadiran warung se’i membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar, mulai dari pemasok daging, penjual kayu bakar, hingga tenaga pengasap. Rantai pasok sederhana ini membuat nilai tambah tetap berada di tangan warga lokal. Harga sebatang se’i sapi di Kupang umumnya berkisar antara Rp25.000 hingga Rp40.000, tergantung ukuran dan penyajian.
Bagi wisatawan yang datang ke NTT, mencicipi se’i kerap masuk daftar wajib, sebagaimana mencoba sambal lu’at atau membeli tenun ikat. Sejumlah penginapan dan restoran hotel di Kupang juga menyediakan se’i sebagai menu khas untuk tamu dari luar daerah. Hal ini turut memperkuat posisi NTT sebagai destinasi yang kaya tidak hanya pemandangan, tetapi juga rasa.
Pengamat kuliner lokal mencatat tantangan utama se’i adalah standarisasi rasa dan keamanan pangan, terutama pada usaha rumahan yang mengasap daging dengan cara tradisional. Pemilihan daging segar serta kebersihan alat pemotong menjadi kunci agar hidangan tetap aman dikonsumsi.
Sebagai warisan kuliner yang terus hidup, se’i membuktikan bahwa makanan sederhana bisa menjadi kebanggaan daerah sekaligus penopang ekonomi warga. Menjaga resep dan cara pembuatannya tetap otentik adalah cara paling pasti agar aroma asap kayu kosambi ini terus memikat lidah generasi berikutnya.(*)
Follow