Labuan Bajo, seputar-ntt.com – Di balik gemerlap destinasi kepulauan Komodo, kawasan hutan Mbeliling di Manggarai Barat menyimpan pesona yang jarang tersentuh keramaian: air terjun Cunca Wulang. Air terjun bertingkat ini mengalir di antara hutan tropis yang masih rimbun, menawarkan pengalaman wisata alam yang berbeda bagi wisatawan yang ingin melihat sisi lain Flores selain laut dan gugusan pulau.
Cunca Wulang berada di Desa Werang, Kecamatan Sano Nggoang, sekitar 30 kilometer dari Labuan Bajo. Perjalanan menuju lokasi menempuh jalur berkelok dengan pemandangan perbukitan dan persawahan warga. Dari titik parkir, pengunjung masih harus berjalan kaki menuruni jalur setapak sekitar 20 hingga 30 menit menyusuri tepi sungai, dengan rimbunan pepohonan yang menjadikan suhu di sekitar terasa sejuk.
Yang membuat Cunca Wulang istimewa adalah susunan batu beku berwarna gelap keunguan yang membentuk dinding ngarai tempat air mengalir. Batuan beku hasil aktivitas vulkanik di masa lalu itu terukir alami membentuk undakan seperti punden beranak, sehingga air jatuh berjenjang dari satu kolam ke kolam berikutnya. Di bagian bawah terdapat kolam alami dengan kedalaman cukup untuk berenang.
Kejernihan air sungai di kawasan ini tergolong lumayan baik, apalagi saat musim kemarau ketika debit air menurun dan arus lebih tenang. Wisatawan umumnya memanfaatkan kolam untuk berendam sekadar melepas lelah setelah trekking. Namun pengunjung tetap perlu berhati-hati karena dasar kolam berbatu licin, dan arus bisa menguat mendadak saat hujan turun di hulu.
Sebagai bagian dari kawasan hutan Mbeliling yang ditetapkan sebagai hutan lindung, area sekitar Cunca Wulang juga menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna khas Flores. Pihak pengelola bersama kelompok sadar wisata desa setempat rutin mengingatkan pengunjung untuk tidak meninggalkan sampah dan tidak merusak vegetasi di sekitar jalur menuju air terjun.
Akses menuju Cunca Wulang relatif paling nyaman ditempuh dengan kendaraan sewa dari Labuan Bajo, baik motor maupun mobil. Waktu kunjungan yang disarankan adalah pagi hingga siang hari, ketika cahaya matahari masuk ke ngarai dan air terjun tampak lebih hidup untuk difoto. Wisatawan disarankan membawa alas kaki yang tidak mudah tergelincir karena jalur trekking dapat berlumpur di musim hujan.
Biaya masuk ke lokasi tergolong terjangkau, dengan tiket yang dikelola oleh pengurus desa dan sebagian dipergunakan untuk perawatan jalur wisata. Penyewaan pemandu lokal tersedia di pos masuk, dan memakai jasa pemandu warga setempat sekaligus membantu perekonomian Desa Werang yang memang menggantungkan sebagian penghasilannya pada sektor pariwisata.
Kehadiran destinasi seperti Cunca Wulang menegaskan bahwa Flores tidak berhenti pada Labuan Bajo dan Komodo saja. Menyebar kunjungan ke air terjun, hutan, dan desa-desa wisata di pedalaman membuka manfaat ekonomi yang lebih luas bagi warga, sekaligus menjaga keseimbangan beban wisata yang selama ini terpusat di kawasan pesisir.(*)
Follow