Labuan Bajo, seputar-ntt.com – Goa Rangko menjadi salah satu destinasi yang paling banyak dicari wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat. Keistimewaan goa ini bukan pada stalaktit yang menjulang, melainkan kolam air laut jernih kebiruan yang terbentuk secara alami di dalam rongga karstnya.
Goa Rangko berada di Desa Rangko, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. Lokasinya sekitar 30 menit perjalanan darat dari pusat Labuan Bajo, dilanjutkan dengan perjalanan laut singkat menuju kawasan tebing karst yang menghadap Selat Flores. Perpaduan perjalanan darat dan laut ini justru menjadi bagian dari daya tariknya sendiri.
Yang membedakan Goa Rangko dari goa-goa lain di NTT adalah kolam air asin di dalamnya. Air laut meresap melalui celah-celah batu karst dan terperangkap di dasar goa, membentuk kolam dengan kedalaman sekitar dua meter. Saat matahari masuk melalui mulut goa menjelang sore, warna air berubah menjadi biru kehijauan yang sangat fotogenik.
Waktu terbaik mengunjungi Goa Rangko adalah siang hingga sore hari, sekitar pukul 11.00 hingga 15.00 WITA. Pada jam-jam tersebut sinar matahari masuk langsung ke dalam rongga goa dan membuat kolam tampak berpendar. Pengelola setempat biasanya membatasi jumlah pengunjung agar suasananya tetap nyaman dan terjaga.
Berkunjung ke Goa Rangko memerlukan perencanaan yang sederhana namun tetap perlu diperhatikan. Wisatawan disarankan membawa pakaian ganti karena berenang di kolam menjadi aktivitas utama, alas kaki anti licin karena jalur menuju kolam berbatu, serta senter atau lampu ponsel untuk menembus bagian goa yang gelap. Biaya masuk kawasan ini tergolong terjangkau dan sudah termasuk pemandu dari warga sekitar.
Pemandu lokal memegang peran penting dalam pengelolaan Goa Rangko. Mereka mengantar pengunjung menuruni tangga batu, menjaga agar tidak ada vandalisme di dinding goa, sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi warga Desa Rangko. Kehadiran wisatawan yang tertib berarti pendapatan langsung bagi masyarakat pesisir Manggarai Barat.
Dari sisi keamanan, pengunjung perlu mematuhi imbauan tidak melompat dari tepian batu, tidak memegang formasi stalaktit yang rapuh, dan tidak membawa sampah ke dalam goa. Kolam air asin di Goa Rangko juga sebaiknya tidak ditelan meskipun terlihat jernih, karena kandungan mineralnya cukup tinggi akibat proses filtrasi alami melalui batu karst.
Goa Rangko umumnya dikombinasikan dengan destinasi lain dalam satu paket perjalanan Labuan Bajo, seperti Pulau Kelor, Pulau Padar, atau Pink Beach di kawasan Taman Nasional Komodo. Kombinasi darat dan laut seperti ini membuat satu hari perjalanan terasa lengkap, mulai dari trekking puncak hingga berenang di kolam goa.
Sebagai destinasi yang mengandalkan keindahan alam murni, Goa Rangko mengingatkan bahwa kekayaan pariwisata NTT tidak selalu berupa pantai berpasir. Rongga karst yang menyimpan kolam air laut jernih ini adalah bukti lain bahwa bentang alam Nusa Tenggara Timur selalu punya cara baru untuk memikat wisatawan.(*)
Follow