Kupang, seputar-ntt.com – Muda, energik dan memiliki visi politik yang terukur. Mungkin itu kesan pertama saat satu meja dengan Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes. Sebagai politisi muda, karier yang telah dibangun tidak segampang membalikkan telapak tangan. Ray Fernandes begitu dia akrab disapa, mengawali langkah politik dari Gedung DPRD TTU, kemudian mendapat legitimasi sebagai Wakil Bupati TTU hingga sekarang sedang menjalani periode kedua sebagai Bupati diwilayah yang juga berbatasan dengan Negara Timor Leste itu.
Jauh sebelum para kandidat bakal calon Gubernur NTT berkerumun untuk memperkenalkan diri kepada rakyat NTT, Ray Fernandes telah berkeliling sendirian untuk menampung aspirasi masyarakat di hampir seluruh pelosok Flobamora. Nama Ray Fernandes bergema di hati masyarakat sekalipun jauh dari hingar-bingar pemberitaan media. Walau bersahabat karib dengan para pewarta, namun sisi humanis, visi dan gagasan Ray Fernandes untuk NTT seperti tak terpublikasi secara vulgar. Padahal itu jualan politik yang laris disaat rakyat mendambakan seorang pemimpin yang benar-benar telah mempraktekkan hidup sebagai petani dan peternak, ketimbang mereka yang hanya jualan isu semata untuk mengelabui mata rakyat.
“Saya sudah berkeliling NTT. Hampir semua wilayah sudah saya lalui dalam rangka menghadapi Pilgub NTT. Ada hal yang sangat berharga yang saya dapat dalam perjalanan keliling itu yakni saya memiliki kesempatan untuk menyimpul kembali dan mempererat tali kekerabatan yang selama ini terputus dengan semua keluarga baik dari bapak maupun mama. Mungkin bagi orang lain itu tidak berarti tapi bagi saya, itu hal yang luar biasa yang saya peroleh dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini,” kata Ray Fernandes saat berbincang di Rumah Makan Nusantara di Kota Kefa, Minggu, (8/10/2017).
Siang itu Ray Fernandes datang ditemani dua putri kesayangannya yang masih kecil yakni Ignasio Marcho Fernandes dan Anselma Patradevi Fernandes. Dia sendiri yang menyetir mobil Avansa Veloz warna perak. Dengan menggunakan kaos kerah warna merah mati dan sandal jepit warna hijau, Ray Fernandes terlihat seperti rakyat kebannyakan. Kesan bahwa dia adalah penguasa di TTU tidak terlintas. Bahkan cara dia menyapa masyarakat yang kebetulan dating menikmati santap siang di restoran yang sama, tidak terlihat ada jarak. Ini adalah kali pertama seputar-ntt.com memiliki kesempatan berbagi pengalaman dengan Bupati TTU dikala tensi politik NTT sudah memanas menuju Pilgub pasca Frans Lebu Raya.
“Politik itu tidak hanya bertujuan untuk meraih kekuasaan tpai juga mengajarkan kita bagimana menjadi orang Sabar. Politik itu ada pasang surutnya. Ada terang dan gelapnya sehingga kita harus bisa mengenal setiap musim dan perubahan dari politik itu sendiri. Dengan demikian ketika ada turbulensi disitulah kekuatiran kita diuji, atau ketika kita hendak melambung maka kita dituntut untuk menghitung segala kondisi. Dulu mungkin kita tidak sabaran dan sering terpancing, tapi seiring berajalannya waktu, kita belajar untuk lebih dewasa dan sabar,” ungkap pria yang lahir di Bijeli TTU pada 31 Agustus 1972 ini.
Sebagai Politisi PDIP, Ray Fernandes memahami secara baik roh dan perjuangan dari partai berlambang banteng moncong itu itu. Walaupun tidak secara gamblang dituturkan, namun dari arah pembicaraannya, Ray Fernandes seperti sudah tahu apa yang sedang dilakukan oleh punggawa PDI di NTT menuju Pilgub NTT. Dia tak menampik bahwa dalam setiap kontestasi politik, tentu ada pilihan-pilihan yang kadang melukai, namun baginya taat asas adalah wajib hukumnya. Namun sebagai orang muda dia juga sangat berharap agar setiap keputusan yang diambil oleh para petinggi partai harus benar-benar melihat fakta politik yang sedang terjadi saat ini dan jauh dari semua maneuver-manuver yang pada akhirnya menenggelamkan impian masyarakat.
“Semuanya tentu ada proses dan kita hargai proses yang sedang berjalan. Saya memang sempat membaca ada media yang menulis tentang calon yang direkomendasi ke pusat tapi sekali lagi sebagai kader kita menunggu proses tersebut. Sekali lagi ketika kita menempatkan rakyat sebagai tujuan politik kita maka merebut kursi kekuasaan bukan jalan satu satunya. Kita bisa tetap bersama rakyat ketika kita mempu memberikan contoh nyata dan tentunya bersama-sama dengan mereka sesuai kepasitas yang ada pada kita,” kata suami dari Christina Fernandes Muki ini.
Banyak hal menarik dan cenderung memacu adrenalin yang disampaikan oleh Ray Fernandes. Sayangnya, kisah dan cerita politik tersebut tidak bisa diungkap disini karna permintaan Ray untuk Off The Record. Walau kadang ada rasa getir dalam nada suara Ray Fernandes, namun senyuman ikhlas seperti tak lekang dari bibirnya. Saat berbincang, kadang tatapannya tajam kedepan ketika dia berbagi pengalaman saat berkeliling NTT. Tak bisa disangkali bahwa Ray Fernandes adalah salah satu orang muda yang potensial milik NTT. Jika dia mau dipasung, mungkin suara geram rakyat harus mampu memutuskan rantai yang hendak menghentikan langkah Ray Fernandes. Sebab orang baik selalu gugur dalam medan politik dan rakyat hanya mendapatkan sosok hayalan yang jauh dari impian. (joey rihi ga)
Follow