WAINGAPU, seputar-ntt.com – Di pesisir utara Pulau Sumba, Kabupaten Sumba Timur, terhampar sebuah pantai yang menjelma menjadi salah satu ikon fotografi Indonesia: Pantai Walakiri. Pasirnya putih berkilau, air lautnya bergradasi biru kehijauan, namun yang membuat wisatawan antre untuk datang adalah barisan pohon bakau berwarna putih keabu-abuan yang berdiri sendirian di tengah hamparan pasir saat air laut surut.
Pohon-pohon yang oleh penduduk lokal disebut kadumbu itu tumbuh di tepi pantai dan semakin terlihat dramatis ketika pasang surut berlangsung. Bentuknya meliuk-liuk seperti bonsai raksasa yang dipahat angin laut selama puluhan tahun, membuatnya tampak seperti kanvas lukisan alam yang hidup. Tak heran Walakiri kerap dijuluki sebagai salah satu lokasi sunset terbaik di Indonesia.
Menuju pantai ini cukup mudah. Dari Kota Waingapu, ibu kota Sumba Timur, perjalanan darat hanya sekitar satu jam atau kurang lebih 40 kilometer melalui jalan yang sebagian besar sudah beraspal baik. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan sewaan, motor, atau bergabung dengan tur kelompok yang umumnya menggabungkan Walakiri dengan destinasi lain di sekitarnya.
Momen paling dicari di Walakiri adalah sore hari menjelang matahari terbenam. Ribuan pecinta fotografi, baik amatir maupun profesional, berdiri di garis pantai menunggu cahaya keemasan menyentuh siluet pohon bakau. Saat surut, refleksi langit di genangan air antara pohon-pohon menciptakan efek cermin yang sulit ditemukan di pantai lain.
Berbeda dengan pantai populer lain di Indonesia, Walakiri masih tergolong sepi dan alami. Belum ada deretan kafe besar atau wahana air di sekitarnya. Yang ada hanyalah beberapa warung sederhana milik warga setempat yang menjual kelapa muda, mi instan, dan makanan ringan. Kondisi ini justru menarik wisatawan yang mencari ketenangan jauh dari keramaian.
Warga sekitar pantai sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani. Sejak kunjungan wisatawan meningkat, beberapa di antara mereka mulai membuka jasa penginapan sederhana dan kuda wisata untuk anak-anak. Kuda memang bagian tak terpisahkan dari budaya Sumba, dan di beberapa pantai di Sumba Timur wisatawan bisa menikmati suasana sunset sambil menunggangi kuda Sumba yang terkenal.
Waktu terbaik mengunjungi Walakiri adalah musim kemarau, sekitar April hingga November, ketika langit cerah dan ombak relatif tenang. Wisatawan disarankan datang sore pukul empat agar sempat menikmati suasana sebelum matahari terbenam sekitar pukul enam waktu setempat, lalu segera kembali ke Waingapu karena penerangan di sekitar pantai masih terbatas.
Sebagai destinasi yang kini mulai masuk radar wisatawan dunia, Walakiri menghadirkan pesona sederhana namun sulit dilupakan: pohon-pohon unik, sunset keemasan, dan keramahan orang Sumba. Bagi siapa pun yang menapaki Pulau Sumba, pantai ini adalah pengingat bahwa keindahan terbesar Indonesia terkadang justru berada di tempat yang paling sunyi dan tersembunyi.(*)
Follow