Kupang, seputar-ntt.com – Angin kencang bukan hal asing bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, terutama pada musim kemarau ketika angin timuran bertiup cukup kuat di wilayah pesisir. Bagi pengendara sepeda motor, hembusan dari samping atau arah berlawanan sering membuat kendaraan oleng mendadak dan menuntut kesiapan ekstra.
Guncangan akibat angin paling terasa saat melintasi jembatan, jalur pesisir terbuka seperti ruas sepanjang pantai Kupang hingga timur pulau, maupun jalur perbukitan tanpa peneduh. Pengendara yang lengah sesaat saja bisa kehilangan keseimbangan, terlebih bila membawa muatan atau penumpang.
Pertama, kurangi kecepatan begitu angin terasa kuat. Kecepatan rendah memberi pengendara waktu lebih panjang untuk mengoreksi arah saat badan dan motor terdorong. Hindari memaksakan laju tinggi hanya karena jalan terlihat lengang dan sepi.
Kedua, kendurkan cengkeraman dan biarkan lengan menyerap guncangan. Pegang setang dengan tenaga cukup namun tidak kaku, karena lengan yang tegang justru membuat setir terlalu reaktif terhadap tiupan. Badan relaks akan menetralkan dorongan angin lebih baik.
Ketiga, beri jarak lebih jauh dari kendaraan besar seperti bus dan truk. Angin yang mengalir di sekitar kendaraan besar menimbulkan dorongan tambahan ketika mereka melintas, sebuah fenomena yang sering membuat pengendara roda dua terseret ke samping secara tiba-tiba.
Keempat, waspadai debu dan kotoran yang beterbangan. Angin kencang di musim kemarau sering membawa pasir halus dari permukaan jalan yang mengurangi jarak pandang sekaligus membuat aspal licis. Gunakan kacamata atau helm dengan visor tertutup agar mata tidak terganggu.
Kelima, sesuaikan posisi berkendara di jalur. Jika memungkinkan, ambil sisi jalur yang terlindung dari arah angin, misalnya sisi yang berdekatan dengan pepohonan atau bangunan. Namun tetap patuhi aturan berada di lajur kiri dan jangan membuntuti kendaraan lain terlalu dekat.
Keenam, periksa kondisi motor sebelum berangkat. Tekanan ban yang sesuai, rem yang responsif, dan rantai yang teratur memberi stabilitas lebih baik saat motor menerima tekanan angin. Muatan barang di belakang sebaiknya diikat rapat dan tidak melebihi kapasitas.
Perlu dicatat pula bahwa penumpang di belakang ikut menentukan keseimbangan. Minta penumpang duduk tegak, memegang pegangan, dan tidak bergerak tiba-tiba saat motor menerima tiupan angin. Penumpang yang ikut merapatkan badan ke pengemudi membantu menstabilkan titik berat kendaraan di tengah tiupan.
Terakhir, bila angin benar-benar kuat disertai hujan atau debu pekat, tidak ada ruginya menepi sejenak di tempat aman dan menunggu tiupan mereda. Beberapa menit menunggu jauh lebih murah daripada risiko jatuh di jalan antarkota yang jauh dari fasilitas kesehatan.
Kewaspadaan sederhana inilah yang menjaga perjalanan tetap sampai tujuan. Di jalanan NTT yang terbuka dan berangin, pengendara yang menghormati kekuatan alam selalu lebih selamat daripada yang memaksakan kecepatan.(*)
Follow