Usia ke-31, Telkomsel Melayani Sepenuh Hati Masyarakat di Wilayah 3T

Date:

Share:

Kupang, seputar-ntt.com – Di sebuah desa nelayan di Pulau Rote Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang guru kini bisa mengajar lewat video call. Di perbatasan Kalimantan, bidan puskesmas mengirim data pasien ke kabupaten dalam hitungan menit. Dua kisah itu punya benang merah yang sama, yakni sinyal Telkomsel.

Selama 31 tahun beroperasi, Telkomsel tidak hanya membangun menara di kota besar. Komitmennya justru diuji di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, BTS Telkomsel berdiri sebagai penanda, bahwa jarak tidak boleh memutus akses.

Bagi warga 3T, BTS bukan hanya tiang besi. Ia adalah jalan. Jalan bagi anak sekolah mengakses materi belajar, bagi UMKM memasarkan produk lewat marketplace, bagi petani mengecek harga pasar.

Telkomsel secara konsisten membangun dan menghadirkan infrastruktur Base Transceiver Station hingga ke daerah terjauh, memastikan panggilan telepon, SMS, dan internet bisa dinikmati warga setempat.

Ketika jaringan sudah masuk, langkah berikutnya adalah peningkatan kualitas. Di banyak titik 3T yang sebelumnya hanya 3G, Telkomsel melakukan modernisasi ke 4G/LTE. Artinya internet yang lebih cepat dan stabil. Video tidak lagi patah-patah. Aplikasi kesehatan bisa diakses tanpa menunggu lama.

Komitmen Telkomsel di 3T tidak berhenti di layanan komersial. Bersama TelkomGroup, program tanggung jawab sosial dijalankan menyasar titik paling dasar: pendidikan dan kesehatan.

Bantuan kuota internet dibagikan ke sekolah-sekolah. Perangkat komputer dikirim ke pelosok. Untuk lokasi yang belum terjangkau fiber dan BTS terestrial, jaringan internet berbasis satelit dipasang di puskesmas dan sekolah.

Seorang kepala sekolah di pedalaman Papua bercerita, dulu ujian nasional berbasis komputer, harus ditempuh dengan perjalanan 6 jam ke kota. Sekarang, dengan komputer dan jaringan baru, muridnya bisa ujian dari kampung sendiri.

Menjadi perintis utama pemerataan konektivitas digital di kawasan perbatasan dan pelosok bukan label yang ringan.

Tantangannya nyata: geografis ekstrem, logistik mahal, daya beli rendah. Tapi Telkomsel memilih tetap hadir. Karena mereka percaya, pemerataan digital adalah syarat agar semua anak bangsa punya kesempatan yang sama.

Di usia 31 tahun, Telkomsel tidak hanya bicara 5G dan AI di kota. Di ujung negeri, mereka bicara tentang sinyal 4G yang stabil, tentang anak yang bisa belajar daring, tentang ibu yang bisa konsultasi ke dokter lewat ponsel.

Karena bagi Telkomsel, melayani sepenuh hati artinya memastikan tidak ada yang tertinggal. Termasuk mereka yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. (joey)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...