Warga Sabu Raijua Gelar Pesta Adat Pehere Jara Kelila dan Ritual adat Nga’a Kelila

Date:

Share:

Liae, seputar-ntt.com – Warga Sabu Raijua merayakan pesta adat pehere jara kelila di Wilayah adat Liae, desa Ledeke, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Propinsi Nusa Tenggara Timur pada Kamis (4/2/2021). Kegiatan adat yang sakral tersebut berlangsung secara aman dan tertib.

Lomi Mone sebagai Deo Rai Liae ketika dihubungi media ini mengatakan bahwa kegitan ini merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di wilayah adat Liae serta sangat sakral. Kegiatan ini tiap tahun harus dilakukan dan itu diatur berdasarkan kelender adat Sabu Raijua kususnya wilayah adat liae yang jatuh pada pidu pehape Warru kelila adji lay atau hari ketujuh setelah bulan purnama, yang biasanya dilksanakan setiap bulan februari atau maret.

Menurut Bai Deo sapaan akrabnya, bahwa kegiatan ini merupakan sala satu dari ritual adat pada musim tanam atau musim penghujan yang menurut kepercayaan masyarakat adat memiliki tujuan untuk mengusir hama belalang, ulat dan binatang lainnya yang dapat merusak tanaman masyarakat.

Selain kegiatan pehere jara, Deo Rai juga melakukan ritual adat Nga;a Kelila yang dilkasanakan di Rumah adat Banni Deo,yang terletak di kampung adat Gopo, Desa Eilogo, Kecamatan Sabu Liae, Kabupaten Sabu Raijua. Setelah ritual nga’a kelila dan pehere jara kelila, masyarakat adat akan masuk pada bulan sakral atau dalam bahasa Sabu di sebut Warru Pana yang berlaku 20 hari kedepan.

Selama 20 hari masyarakat adat akan di melarang melakukan beberapa kegiatan seperti nikah adat,penangkapan ikan di beberapa lokasi tertentu serta melarang malakukan ritual pemou domade bagi masyarakat yang masih menganut aliran kepercayaan Jingitiu, bagi yang melanggar akan diberikan sangsi berdasarkan hukum adat yang berlaku.

“Ritual Nga’a kelila saya lakukan dengan cara mempersembahkan sesajian di tiang induk rumah adat sambil memanjatkan doa kepada leluhur dan Tuhan yang Maha Esa dengan isi permohonan memberikan kesuburan dan kamakmuran bagi masyarakat Sabu Raijua terlebih kusus kesuburan tanaman .” ujar Deo Rai

Jefrison Hariyanto Fernando sebagai salah satu Pegiat Budaya Sabu ketika dimintai komentarnya mengatakan, kegiatan pehere jara sebagai kegiatan adat masuk dalam kategori atraksi budaya, berupa pawai kuda yang dilakukan oleh puluhan hingga ratusan peserta di suatu lokasi. Ia juga mengatakan bahwa selama ini orang salah memahami bahwa pehere jara itu adalah pacuan kuda sedangakn bukan.

“Saya ingin mengatakan bahwa pehere jara itu bukan seperti yang selama ini orang memahami bahwa pacuan kuda , karena kalau pacuan kuda itu adalah kegiatan balapan kuda untuk menguji kecepatan, sedangkan pehere jara sama halnya dengan pawai kuda , dimana para penungggang kuda akan menghiasi kudanya dengan ornament-ornemen yang indah dan mengalungkan giring-giring di leher kuda yang mereka tunggangi serta ada atraksi pegede atau ledo atau atraksi kuda menari yang di iringi dengan tambur dan gong “ ujar Nando, sapaan akrab Jerfrison.

Nando berharap kepada pemerintah dan masyarakat agar kekayaan Budaya ini perlu dipromosikan menjadi salah satu Destinasi Wisata Budaya di Kabupaten Sabu Raijua. Selain itu ia berharap kedepannya diusulkan untuk dijadikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) secara Nasional ke Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan khususnya Dirjen Kebudayaan.

“Ini kekayaan budaya dan daya tarik wisata yang tidak dimiliki oleh negara lain sehingga harus tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya,” ujarnya

Kitu Dimu salah seorang penonton sekaligus Anak kandung dari Mone Ama yang memangku jabatan sebagai Doheleo di wilayah adat Liae, ketika di wawancarai media ini menghimbau kepada masyarakat agar tetap menjaga dan melestarikan budaya pehere Jara sebgai kekayaan intelektual yang telah diwariskan oleh nenek moyang sejak ribuan tahun yang lalu.

“Ini kekayaan intelektual masyarakat Sabu Raijua yang perlu dilestarikan dan dijaga keasliannya,saya juga berharap kedepan masyarakat yang menjadi peserta kegiatan pehere jara bisa mememakai pakian adat sehingga akan menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Sabu Raijua” ujar Kitu.

Kegiatan pehere jara di wilayah adat liae hari ini di ikuti oleh puluhan orang peserta dan juga puluhan orang penonton yang dimulai sekita pukul 16.00 – 1800 WITA.(*JHF)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...