Kalabahai, seputar-ntt.com – Festival makan baru tenun ikat merupakan salah satu dari lima festival desa yang akan diselenggarakan di Kecamatan Alor Barat Laut (Abal) Kabupaten Alor.
Tujuannya untuk menggerakan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dengan memanfaatkan semua potensi desa semaksimal mungkin demi kesejahteraan masyarakat dalam menghidupkan Alor Kenyang, Pintar dan Sehat.
“Festival tenun ikat yang digagas pemerintah kecamatan bersama masyarakat Desa Ternate ini merupakan festival tangguh pertama di Kabupaten Alor, bahkan di NTT ditengah pandemi covid-19 dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” ujar Camat Abal, Martinus De Porres Djeo, S.IP dalam sambutannya pada pembukaan festival tenun ikat yang berlangsung di Umapura, Sabtu, 27/3/2021 pagi.
Lanjut Camat, festival ini juga sebagai ajang memperkenalkan Desa Ternate sebagai destinasi wisata baru yang fokus utamanya pada wisata tenun ikat.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat Ternate dikenalkan dengan dua wisata melalui penyediaan homestay yang sudah menerima tamu, juga ada atraksi menenun dan penjualan tenun,” ungkapnya.
Menurut De Porres, hasil lelang dari tenun ikat pada festival perdana ini oleh masyarakat Desa Ternate akan dibangun sumur bor secara swadaya dalam menyediakan air bersih.
“Kami pun menyadari, tantangan terbesar kami bukanlah penyelenggaraan acara ini, melainkan apa yang harus kami lakukan setelah kegiatan ini berlalu. Untuk itu kolaborasi semua pemangku kepentingan baik di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten tetap kami perlukan demi ketahanan dan peningkatan ekonomi masyarakat,” imbuh Martinus.
Ia menambahkan, terancamnya kekayaan intelektual penenun seperti motif, proses dan pewarnaan alami hasil kerja keras para maestro dan profesor tenun Alor menjadi tantangan lain yang dihadapi.
“Dengan kerendahan hati kami memohon Bapak bupati Alor dan semua pihak yang berkompeten untuk menolong penenun kami khususnya masyarakat Ternate dan di Alor pada umumnya untuk mendapatkan paten atas hak kekayaan intelektual (Haki),” pintanya.
Camat Abal juga berjanji, pihaknya bersama pemerintah desa siap membantu untuk menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan untuk pendaftaran hak cipta tersebut.
Sementara Bupati Alor, Drs. Amon Djobo mengatakan, dengan festival ini menegaskan kepada semua orang kalau pulau kecil Ternate telah melahirkan ide-ide besar, bukan saja untuk Alor tetapi juga NTT dan Indonesia secara keseluruhan.
“Dari jemari orang tua kita disini pada hari ini telah menceritrakan pada dunia luar bahwa orang di Umapura adalah manusia unggul yang ada di Provinsi kira khususnya Nuaa Kenari,” ucap mantan Asisten III ini.
Dikatakannya, tenun ikat ini bukan saja sekedar cinderamata, tetapi sebagai pintu masuk patiwisata dan juga untuk menopang pertumbuhan ekonomi daerah serta income perkapita rumah tangga penduduk bisa diperoleh dari apa yang telah dibuat.
“Saya minta penguatan-penguatan yang ada di kelompok tenun terus dilakukan dan ditingkatkan. Ini juga penting bagi kita dalam mewarisi karya-karya terbaik leluhur bagi generasi muda yang akan datang,” harap Djobo. (*Pepenk)
Follow