Maumere, seputar-ntt.com – Pengalaman berbeda dirasakan oleh 56 orang mahasiswa pasca sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero pasalnya Dosen Mata Kuliah Ilmu Perbandingan Agama, Pater Hendrikus Maku, SVD membuat dinamika dengan mendatangkan Mangku atau Imam umat Hindu di Maumere, Pinandhita Sanggara Ketut Darmika untuk mengajar para calon pastor di STFK Ledalero, Kamis (19/4/2018).
Materi yang dibawakan Imam Ketut berupa ajaran-ajaran yang dihayati oleh semua umat Hindu meliputi ajaran Trimurti, Tirta dan Moksa. Trimurti adalah Tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa. Sedangkan Tirta berarti upacara pembersihan diri.
Sementara itu Moksa berarti ajaran mengenai kehidupan setelah kematian.
Sebelumnya, beberapa mahasiswa juga pernah berdialog dengan umat agama Hindu di Maumere ketika merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, Jumat (16/3/2018) lalu.
Menurut Pater Hendrik, dinamika itu dibuatnya agar mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan pemimpin umat Hindu di Maumere sehingga materi yang dipelajari lewat diktat kuliah semakin diperkaya dengan penjelasan langsung dari Imam Umat Hindu.
Selain itu, lanjutnya, kesempatan tersebut juga dilihat sebagai upaya untuk merawat kebhinekaan dan menciptakan ruang dialog antarumat beragama.
“Pak Darmika juga antusias dengan kegiatan ini karena merupakan kesempatan yang tampan untuk dialog lintas agama. Saya yakin akan nilai-nilai positif yang ditimba dari pertemuan kali ini,” ujar Pater Hendrik.
Lulusan Institut Pontificio Di Studi Arabi e Islamistica Roma ini menegaskan, kegiatan serupa akan terus dilakukan selama dirinya masih mengasuh mata kuliah Ilmu Perbandingan Agama di STFK Ledalero sehingga dialog tetap terjaga.
Sementara itu, Imam Ketut yang ditemui di Pura Waidoko beberapa waktu lalu mengakui senang bisa berbagi pengetahuan dengan para calon pastor di Ledalero. Menurutnya, agama apapun tidak boleh menutup diri dengan keberadaan agama lain di sekitarnya. Karena itu, ia tergerak untuk saling membagi rahmat itu lewat pengajaran.
“Saya selalu bilang, agamamu itu agamamu dan agamaku itu agamaku. Jadi tidak ada yang bisa bilang agamanya yang paling benar karena pada prinsipnya semua kita menyembah Tuhan yang satu dan sama,” tegas imam Ketut.
Hal yang sama diakui Frater Leo Krispianus, SVD, menurutnya selama ini dirinya hanya mendapat pengetahuan ajaran Hindu lewat buku-buku dan diktat kuliah. Baru kali ini dirinya bisa berinteraksi secara langsung dengan imam Umat Hindu sehingga apa yang dia pelajari langsung dibahas secara detail oleh pelaksana ajaran Hindu tersebut.
“Saya rasa ini kegiatan yang bagus. Dengan adanya kegiatan ini kami semakin paham soal ajaran Hindu. Lebih dari itu, kami diajarkan untuk melihat kebenaran tidak hanya dalam perspektif agama Katolik saja tetapi juga dari agama lain. Dengan begitu, dialog yang ada ini bisa menciptakan iklim toleransi antarumat beragama,” pungkas calon pastor yang akan bertugas di Timor Leste ini.(tos)
Follow