Dosen di Australia Kritik Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono

Date:

Share:

Jakarta, seputar-ntt.com — Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY, Kamis (1/12) berkesempatan diskusi dengan para dosen di Universitas Melbourne, Victoria dalam kunjungan kerjanya di Australia.

Diskusi dalam bahasa Inggris yang dipandu Direktur Asia Institute Universitas Melbourne Prof Vedi Hadiz, dihadiri sejumlah akademisi dan mahasiswa Universitas Melbourne serta sejumlah undangan. Saat diskusi AHY ditanyakan tentang masalah hak asasi manusia di Aceh sebagai imbas dari penerapan sharia law, di mana hak-hak dan kebebasan kaum minoritas agama yang menyukai gaya hidup sekuler, dibatasi. Terkait masalah HAM di Aceh, ditanyakan juga tentang mengapa ada peace agreement dengan Aceh pada tahun 2005, tetapi tidak ada di Papua.

“Saya tanya tentang mengapa perjanjian damai, peace agreement yang dilakukan di Aceh tahun 2005, termasuk pemberlakuan hukum syariah, sharia law justru tidak dilakukan di Papua. Poin-poin utama penjelasan AHY sangat baik. Namun ia berbicara terlalu umum, tak ada penjelasan spesifik,” ujar Dr Justin Wejak, dosen dan peneliti Indigeneous Knowledge di Universitas Melbourne, melalui keterangan yang diperoleh di Jakarta, Senin (5/12).

Dalam pertemuan dengan para dosen di Universitas Melbourne, ada sejumlah hal yang disampaikan AHY, putra sulung mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Poin-poin utama penjelasan AHY sebagai berikut.

Pertama, AHY menyatakan ia mengunjungi tempat-tempat berbeda di Indonesia guna menyapa langsung rakyat. Sebagai representasi generasi muda, ia ingin memosisikan dirinya sebagai representasi kaum muda Indonesia; ia menjadi simbol harapan akan masa depan Indonesia yang lebih ceria.

Kedua, dari segi ekonomi, menurutnya, Indonesia saat ini terpuruk. Tak ada pertumbuhan ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ketiga, banyak rakyat mengalami kesulitan mendapatkan makanan dan uang untuk membiayai pendidikan anak-anak. Kebutuhan dasar rakyat seolah diabaikan. Pemerintah saat ini terlihat lebih mengutamakan pembangunan infrastruktur. Banyak sekali biaya habis untuk membangun infrastruktur, sementara rakyat lapar. Kemudian, keempat, Agus Harimurti juga bicara soal perang di Ukraina.

“Agus Yudhoyono juga berbicara tentang perang di Ukraina dan mengharapkan bahwa perang tersebut segera berakhir. Beliau kemudian menyebut tiga tantangan utama dalam politik yaitu identity politics, money politics, dan post-truth politics,” lanjut Justin Wejak, dosen asal Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Justin juga mengeritik Agus Harimurti yang berbicara terlalu umum dan normatif. Menurutnya, tak ada penjelasan yang spesifik dan rinci. Misalnya, tentang bagaimana mencegah praktik politik uang, politik identitas, dan hoaks atau berita-berita palsu. Agus hanya berbicara tentang apa, what dan sedikit tentang mengapa, why tetapi sama sekali tidak menyentuh pertanyaan bagaimana, how mencapai suatu cita-cita atau harapan.

“Agus Harimurti menghendaki agar tidak ada politisasi identitas agama etnis. Namun, tak ada penjelasan tentang bagaimana ia memastikan bahwa praktik itu tidak terjadi. Saya piker, beliau punya potensi menjadi pemimpin bangsa,” lanjut Justin, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK), kini berganti nama menjadi Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores.

Peluang Agus Harimurti menjadi pemimpin bangsa, kata Justin, terbuka mengingat usianya masih relatif muda dan punya kapasitas mumpuni untuk berdialog dengan siapa pun.

“Saya usulkan kepada beliau agar fokus pada sosialisasi visi dan misinya setiap kali ia berkesempatan berpidato di forum mana pun,” kata Justin, editor buku Membangun Tanpa Sekat, saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Otonomi Kabupaten Lembata pada 2020.

Di bagian lain diskusi, Agus Harimurti juga cukup mengecam kebijakan infrastruktur pemerintah saat ini. Menurutnya, pemerintah mengabaikan kebutuhan dasar rakyat.

“Hemat saya, Agus Harimurti perlu lebih mendekatkan dirinya dengan kaum muda milenial dan mungkin sedikit mengambil jarak dari ayahnya. Karena sang ayah dapat dipandang sebagai simbol masa lalu yang tidak selalu sukses. Beliau perlu menutup ruang anggapan itu bahwa dia semata penerus warisan Yudhoyono. Ini penting untuk penegasan identitas dirinya dari perspektif psikologi politik,” lanjut Justin, antropolog asal Lembata yang sudah lebih dari dua dekade menjadi dosen tetap di Universitas Melbourne, Australia. (*)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...