Ditinggal Suami Merantau, Ibu di Manggarai Timur Huni Pondok Reyot Di Kebun Kopi

Date:

Share:

Manggarai Timur, seputar-ntt.com – Getirnya kehidupan dirasakan oleh mama Yustina Titi Nurbaya (43). Belasan tahun, tinggal di pondok reyot bersama tiga anaknya.

Mama Yustina merupakan warga Desa Colol, Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di pondok reyot yang terletak ditengah perkebunan kopi itu, mama Yustina mengasah harapan untuk menghidupi keluarganya.

Sudah sejak lama mama Yustina hidup dengan penuh keterbatasn ekonomi. Kondisinya kian memburuk tatkala suaminya merantau di Kalimantan, hingga saat ini tidak pernah beri kabar bahkan tidak pernah sekali pun mengirimkan mereka uang.

“Suami saya merantau di Kalimantan sejak tahun 2020, sampai saat ini dia tidak pernah memberi kabar, dan tidak pernah mengirimkan kami uang. Untuk memenuhi kebutuhan saya kerja harian bagi yang membutuhkan tenaga saya dengan harapan upah itu bisa membeli beras dan kebutuhan anak sekolah”, kisah mama Yustina sambil berlinang air mata.

Di pondok reyot berukuran 3 x 4 meter itu, mama Yustina dan ketiga anaknya tidur di tenda beralaskan tikar usang seadanya tanpa spon atau pun kasur. Ironisnya, pondok yang mereka tempati merupakan milik saudaranya. Mereka hanya menumpang untuk sekedar melepas lelah dan meniti harapan hidup yang lebih baik dimasa depan.

Karena penghasilannya tak menentu, mama Yustina cemas dikala anak – anaknya harus membutuhkan biaya sekolah seperti seragam, buku tulis, sepatu dan tas.

Bahkan, seorang anaknya, bernama Julius Ledin (12) terpaksa harus putus sekolah demi membantu perekonomian keluarga.

“Kami sudah sejak tahun 2011 tinggal di pondok ini. Pondok ini juga milik saudara saya. Kami tidak punya tanah untuk bangun rumah. Untuk memenuhi kebutuhan, saya kerja harian yang membutuhkan tenaga saya bahkan terpaksa anak saya berumur 12 tahun rela putus sekolah untuk cari uang”, kisah mama Yustina sambil meneteskan air mata.

Di pondok reyot itu pula, mereka hidup tanpa listrik. Padahal desa itu sudah masuk jaringan listrik negara. Namun, karena keterbatasan ekonomi, mama Yustina belum bisa membeli meteran listrik. Untuk penerangan malam, mereka masih menggunakan lampu pelita dengan bahan bakar minyak tanah.

Selama ini pemerintah telah mendata mereka sebagai penerima bantuan rumah layak huni. Namun, mereka belum memiliki tanah untuk membangun rumah. Mama Yustina juga mengaku keluarganya tidak terdata sebagai penerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) bahkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Saya hanya terima bantuan beras dari pemerintah berupa bantuan beras El-Nino”, tutupnya. (Fidel Sanath)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...