Kupang, seputar-ntt.com — Pada Maret 2026, Nilai Tukat Petani (NTB) Provinsi NTT sebesar 100,27 atau mengalami penurunan 065 persen, jika dibandingkan Februari yang mencapai 100,92.
“Penurunan ini disebabkan oleh indeks terima yang bergerak turun, dan indeks bayar yang mengalami kenaikan,” jelas Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira Bangngu Kale saat jumpa pers di aula BPS, Rabu (1/4/2026).
Diakui Matamira, indeks terima tercatat turun 0,29 persen, sedangkan di indeks bayar naik 0,35 persen.
“Untuk indeks bayar itu, ada dua komponen di dalamnya, yakni indeks konsumsi rumah tangga, dan indeks biaya produksi dan penambahan barang Modal,” jelas Matamira.
Untuk indeks konsumsi rumah tangga, kata Matamira, meningkat 0,4 persen, sedangkan untuk barang modal turun 0,03 persen.
Pada kesempatan tersebut, Matamira menjelaskan juga terkait penurunan NTP Maret 2026, terutama dipengaruhi oleh subsektor tanaman pangan turun -0,37 persen, yang utamanya disumbang oleh komoditas jagung.
“Kemudian subsektor tanaman perkebunan rakyat turun -1,84 persen, dan komoditas penyebab penurunannya adalah kakao atau coklat biji, kelapa, kopi,” tambah dia.
Selanjutnya, tegas Matamira, subsektor peternakan juga turun -0,42 persen, yang mana penjumlahan terbesarnya adalah babi.
“Sedangkan untuk perikanan turun 0,82 persen, dimana budidaya ikan turun 0,38 persen. Sedangkan untuk perlengkapan ikan, turun -0,99 persen,” ungkapnya.
Sementara subsektor yang mengalami kenaikan nilai tukarnya, ujar Matamira, adalah subsektor hortikultura naik 1,23 persen, dengan komunitas penyumbang adalah kenaikan cabe rawit dan cabai merah,
Untuk Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), kata Matamira, merupakan perbandingan nyata antara indeks terima terhadap index bayar, salah satu komponennya yaitu biaya produksi dan penambahan barang modal, jadi tidak memasukkan lagi indeks konsumsi rumah tangga.
‘Pada maret 2026 NTUP tercatat 104,75 atau turun 0,26 persen dari kondisi Februari 2026, penurunan NTUP dipengaruhi oleh penurunan pada subsektor perkebunan rakyat dan penangkapan ikan,’ papar dia.
Sedangkan subsektor tanaman pangan, holtikultura dan peternakan ternyata mengalami kenaikan dan tumbuh positif .
‘Untuk indeks konsumsi rumah tangga ini, bagian dari indeks bayar pada Maret 2026 mengalami kenaikan 0,4 persen secara M to M,” jelas Matamira.
Diungkapkan Matamira, komoditas yang memberikan andil cukup signifikan pada kenaikan indeks konsumsi rumah tangga ini, diantaranya adalah beras, cabe rawit, sawi hijau, tomat, ikan tembanh, daging ayam ras dan ikan tongkol
“Sedangkan pperkembangan Indeks Harga Konsumsi rumah Tangga secara Y on Y itu, meningkat 2,03 persen,” pungkas Matamira. (joey)
Follow