Seba, seputar-ntt.com – Mantan Bupati Kupang, mantan Ketua DPRD Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Ibrahim Agustinus Medah, menilai Kabupaten Sabu Raijua memiliki potensi garam yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dipersepsikan banyak pihak. Menurutnya, komoditas tersebut tidak hanya bernilai sebagai garam konsumsi, tetapi dapat berkembang menjadi fondasi lahirnya berbagai industri di masa depan.
Pernyataan itu disampaikan Iban Medah, sapaan akrab Ibrahim Agustinus Medah usai meninjau sejumlah kawasan tambak garam di Pulau Sabu pada Selasa (7/7/2026) bersama Bupati pertama Sabu Raijua, Marthen Dira Tome. Dalam kunjungan tersebut, ia mengelilingi hampir seluruh wilayah Pulau Sabu, mulai dari bagian timur hingga barat, termasuk kawasan tambak garam Pururede.
Iban Medan mengatakan, gagasan pemekaran Sabu Raijua menjadi kabupaten sendiri sejak awal didorong oleh keyakinannya bahwa daerah tersebut memiliki kekayaan sumber daya alam yang belum tergali secara optimal.
“Saat memperjuangkan Sabu Raijua menjadi kabupaten, saya bermimpi daerah ini akan melahirkan banyak sumber daya yang nantinya dapat dikembangkan oleh para pemimpin yang memimpin daerah ini,” ujarnya.
Menurut Iban Medah, harapan tersebut mulai terlihat ketika Marthen Dira Tome menjadi bupati pertama Sabu Raijua. Ia menilai Marthen menjadi sosok yang memulai upaya menggali berbagai potensi daerah sehingga mengubah pandangan bahwa Pulau Sabu hanya dikenal sebagai wilayah kering dengan sumber daya terbatas.
“Selama ini orang menganggap Sabu hanya tanah kering. Padahal setelah saya melihat langsung, pulau ini memiliki potensi yang sangat besar. Selain rumput laut, sekarang garam menjadi kekuatan baru yang luar biasa,” katanya.
Hasil kunjungannya memperlihatkan bahwa tambak-tambak garam tersebar hampir mengelilingi Pulau Sabu. Kondisi tersebut, menurut Ibrahim, menjadi keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Ia bahkan membandingkan pengembangan garam di Sabu dengan kawasan tambak garam yang saat ini dikembangkan pemerintah di Pulau Rote.
“Di Rote pengembangannya berada pada satu kawasan sehingga manfaat ekonominya dinikmati masyarakat di sekitar kawasan itu. Berbeda dengan Sabu. Tambak garam tersebar dari timur, barat hingga wilayah tengah pulau. Artinya manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat di hampir seluruh Pulau Sabu,” ujarnya.
Menurut Iban Medah, penyebaran kawasan produksi garam tersebut menciptakan pemerataan ekonomi karena peluang usaha dan lapangan kerja tidak terpusat hanya di satu lokasi.
Ia menilai pengembangan potensi tersebut merupakan bentuk pemanfaatan anugerah sumber daya alam yang telah diberikan kepada masyarakat Sabu Raijua.
“Kalau sumber daya sebesar ini tidak dikembangkan, berarti kita menyia-nyiakan anugerah Tuhan,” katanya.
Iban Medah menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh memandang garam hanya sebagai komoditas untuk kebutuhan dapur.
Menurutnya, nilai ekonomi terbesar justru berada pada industri turunan yang dapat berkembang dari komoditas tersebut.
“Garam bukan hanya garam meja untuk konsumsi. Garam akan melahirkan banyak industri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai produk turunan berbasis garam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri kimia, mineral hingga farmasi. Karena itu, pengembangan garam dinilai memiliki prospek ekonomi jangka panjang yang jauh lebih besar dibanding sekadar menjual garam sebagai bahan konsumsi.
“Ke depan Pulau Sabu akan memiliki banyak industri yang bersumber dari garam. Ini baru satu potensi. Masih banyak sumber daya lain yang bisa dikembangkan,” katanya.
Menjawab pertanyaan mengenai peluang sektor garam menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), Ibrahim optimistis komoditas tersebut dapat menjadi lokomotif baru perekonomian Sabu Raijua apabila dikembangkan hingga ke sektor hilir.
Menurutnya, nilai tambah terbesar tidak berada pada produksi garam mentah, melainkan pada berbagai industri yang memanfaatkan garam sebagai bahan baku.
“Kalau orang hanya melihat garam sebagai bahan makanan, tentu nilainya terbatas. Tetapi kalau industri turunannya berkembang, maka nilai ekonominya akan sangat besar,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat memberi perhatian lebih besar terhadap pengembangan industri berbasis garam di Pulau Sabu.
Dalam kesempatan itu, Iban Medah memberikan apresiasi kepada Marthen Dira Tome yang dinilainya memiliki keberanian memulai pengembangan potensi garam sejak menjabat sebagai bupati pertama Sabu Raijua.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi fondasi penting bagi pembangunan ekonomi daerah yang kini mulai dirasakan masyarakat.
Ia berharap kreativitas dan inovasi serupa terus berkembang, tidak hanya di Sabu Raijua tetapi juga di berbagai daerah di NTT.
“Kita membutuhkan pemimpin yang kreatif dan inovatif, yang mampu menggali sumber daya daerah agar memberi manfaat bagi masyarakat luas,” katanya.
Bahkan, Ibrahim meyakini pengalaman Marthen dalam mengembangkan potensi garam dapat menjadi referensi bagi pembangunan daerah lain di Indonesia.
“Saya berharap beliau tidak hanya terus berkarya di Sabu, tetapi juga dapat berkontribusi untuk NTT bahkan Indonesia,” ujarnya. (jrg)
Follow