Menia, seputar-ntt.com – Hamparan tambak garam di Pantai Waj’ju, Desa Huwaga, Kecamatan Sabu Timur, Kabupaten Sabu Raijua, menjadi saksi dimulainya panen garam pada Senin (20/7/2026). Sebelum panen dimulai, Ketua Majelis Klasis Sabu Timur GMIT, Pendeta John Mozes Hendrik Wadu Netu, S.Th., memimpin doa bersama yang diikuti para pekerja dan pengelola tambak.
Panen tersebut digelar oleh PT Nataga Raihawu Industri yang dikelola Marthen Dira Tome, mantan Bupati Sabu Raijua sekaligus inisiator pengembangan tambak garam modern di daerah itu.
Dalam renungannya, Pendeta John Mozes menyampaikan bahwa panen garam bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan sebuah gambaran tentang bagaimana Tuhan menghadirkan berkat melalui alam dan kerja keras manusia.
“Orang mungkin melihat garam hanya sebagai bisnis atau uang. Tetapi ketika melihat kristal garam itu terbentuk oleh matahari dan angin, saya melihat Tuhan sedang berbicara bahwa tidak ada perkara yang tidak bisa menjadi berkat,” ujarnya.
Menurut dia, gereja perlu belajar menghadirkan pesan-pesan iman yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Kerja keras para petani garam di bawah terik matahari, katanya, merupakan bentuk nyata perjumpaan manusia dengan berkat Tuhan.
“Kadang-kadang kita membuat pembicaraan tentang Tuhan terlalu rumit. Padahal hari ini Tuhan berbicara dengan sederhana, melalui kerja keras, matahari, angin, dan garam yang menjadi berkat,” katanya.
Pendeta John juga menilai gereja tidak cukup hanya mendampingi umat melalui pelayanan rohani. Gereja, menurutnya, perlu ikut memikirkan bagaimana hasil kerja masyarakat dapat memberi manfaat ekonomi yang lebih besar.
Ia mengaku terkesan dengan gagasan hilirisasi yang disampaikan Marthen Dira Tome.
“Kalau umat sudah bekerja keras menghasilkan sesuatu, gereja tidak bisa hanya hadir untuk berdoa. Gereja juga harus berpikir bagaimana hasil itu menjadi berkat bagi kehidupan banyak orang,” katanya.
Ia mengatakan kebijakan-kebijakan gereja ke depan perlu memberi ruang bagi penguatan ekonomi jemaat, termasuk melalui dukungan terhadap proses hilirisasi berbagai potensi lokal.
Menurut dia, pembangunan hanya dapat berhasil melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan gereja.
Dalam kesempatan itu, Pendeta John menyebut Marthen Dira Tome sebagai salah satu tokoh Nusa Tenggara Timur yang inspiratif.
Ia menilai terdapat perbedaan antara pemimpin yang bekerja demi pencitraan dengan pemimpin yang memiliki komitmen membangun kesejahteraan masyarakat.
“Banyak pemimpin mencari momentum. Tetapi yang memikirkan proses panjang untuk kesejahteraan rakyat itu tidak banyak. Saya melihat yang dipikirkan Pak Martin bukan hanya garam, tetapi bagaimana setelah garam diproduksi, kawasan itu dikembangkan sehingga memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya.
Ia berharap gereja terus belajar memahami berbagai potensi ekonomi masyarakat sehingga dapat memberikan pemahaman yang utuh kepada jemaat.
“Hari ini banyak orang memperdebatkan garam karena belum memahami persoalannya. Tugas gereja adalah membantu masyarakat memahami,” katanya.
Pendeta John juga mengajak masyarakat menjaga tambak garam sebagai aset bersama yang harus dikelola secara berkelanjutan.
Menurut dia, panas matahari dan angin yang selama ini kerap dianggap sebagai bencana justru menjadi anugerah bagi masyarakat pesisir.
“Jangan terburu-buru melihat segala sesuatu sebagai tantangan yang tidak bisa diatasi. Di balik apa yang kita anggap bencana, Tuhan sudah menyiapkan berkat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dan kegiatan ekonomi tidak seharusnya dipertentangkan.
“Tuhan memberi manusia akal untuk mengelola alam. Karena itu, kelolalah dengan bertanggung jawab agar memberi manfaat bagi keberlanjutan hidup,” katanya.
Sementara itu, Marthen Dira Tome mengatakan pengembangan tambak garam di Sabu Raijua merupakan cita-cita yang telah dirintis sejak dirinya menjabat sebagai Bupati Sabu Raijua pada 2012.
Menurut dia, persoalan garam nasional bukan hanya menyangkut jumlah produksi, tetapi juga kualitas.
“Kebutuhan garam Indonesia bukan hanya kuantitas, tetapi kualitas. Industri membutuhkan garam dengan kadar NaCl yang tinggi. Selama ini Indonesia masih mengimpor dari Australia, India, dan China,” katanya.
Ia optimistis teknologi produksi yang kini diterapkan di Sabu Raijua mampu menghasilkan garam berkualitas tinggi sehingga mendukung target pemerintah menghentikan impor garam pada 2027.
Marthen mengajak seluruh pihak mengawal pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang percepatan swasembada garam.
“Kita harus konsisten memperbaiki kualitas dan kuantitas garam agar cita-cita Indonesia mandiri garam pada 2027 benar-benar tercapai,” ujarnya.
Menurut dia, sinar matahari dan angin kencang yang menjadi ciri khas Sabu Raijua justru merupakan keunggulan kompetitif yang harus dimanfaatkan.
“Jangan melihat matahari dan angin sebagai ancaman. Itu anugerah Tuhan yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin,” katanya.
Marthen menegaskan bahwa pengembangan tambak garam tidak semata-mata bertujuan mengejar keuntungan bisnis.
Lebih dari itu, kata dia, industri garam harus menjadi instrumen untuk membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
“Tambak garam bukan hanya peluang bisnis, tetapi peluang kerja. Semakin luas lahannya, semakin banyak orang bekerja. Semakin sering panen, semakin banyak uang beredar di masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan tambak garam mampu menyerap tenaga kerja tetap maupun pekerja harian tanpa mensyaratkan pendidikan formal yang tinggi.
“Tambak garam hanya membutuhkan tenaga kerja yang mau bekerja. Tua, muda, bahkan pelajar bisa ikut bekerja saat musim panen dan langsung memperoleh penghasilan pada hari itu juga,” katanya.
Marthen juga mengajak masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di media sosial.
Menurut dia, penyebaran isu melalui akun-akun anonim berpotensi merusak citra daerah dan menghambat upaya pembangunan yang sedang berjalan.
“Yang harus kita bangun adalah pengetahuan untuk mengelola potensi daerah. Otonomi daerah bukan berarti terus bergantung kepada pemerintah pusat, tetapi bagaimana kita mampu memanfaatkan kekayaan yang sudah Tuhan berikan untuk menyejahterakan masyarakat,” ujarnya. (jrg)
Follow