Kupang, seputar-ntt.com — Sebulan berlalu sejak kebakaran hebat menghanguskan dua rumah permanen di Perumahan Lopo Indah Permai, BTN Kolhua, Blok Y1, RT 37/RW 13, Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Namun, bagi para korban, musibah itu belum benar-benar berakhir. Puing-puing rumah yang terbakar masih berdiri dan menjadi pengingat atas kehilangan yang mereka alami.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi dua rumah terdampak masih memprihatinkan. Dinding beton terlihat retak dan menghitam, sementara atap seng telah runtuh. Sejumlah perabot rumah tangga yang hangus juga masih tampak di antara sisa-sisa bangunan.
Para korban, termasuk Anita Mahuri, hingga kini belum dapat kembali menempati rumah mereka. Mereka terpaksa menumpang di rumah tetangga untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat para korban harus mengandalkan bantuan dan kepedulian warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Di tengah keterbatasan itu, bantuan logistik dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah diterima para korban. Bantuan tersebut antara lain berupa 30 kilogram beras, dua liter minyak goreng, satu dos mi instan, dan 12 kaleng ikan siap saji.
Kemensos juga memberikan sejumlah perlengkapan untuk menunjang kebutuhan sehari-hari, seperti panci, wajan, selimut, serta pakaian layak pakai.
Bantuan tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan dasar korban. Namun, menurut Anita, persoalan terbesar yang kini mereka hadapi adalah tempat tinggal yang belum dapat diperbaiki.
“Sampai saat ini tidak ada bantuan material bangunan,” ujar Anita.
Menurut dia, kebutuhan material untuk membangun kembali rumah menjadi sangat penting karena kedua keluarga kehilangan tempat tinggal sekaligus sebagian besar harta benda dalam kebakaran tersebut.
Kebakaran yang terjadi sekitar sebulan lalu itu diduga dipicu korsleting arus listrik. Api kemudian dengan cepat membesar karena material bangunan yang mudah terbakar dan kondisi angin yang cukup kencang.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun, kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Dua keluarga terdampak kehilangan tempat tinggal dan barang-barang mereka dalam waktu singkat.
Kini, sebulan setelah kejadian, perhatian para korban tidak lagi hanya tertuju pada bantuan kebutuhan pangan. Mereka berharap ada langkah nyata agar rumah yang terbakar dapat kembali dibangun sehingga mereka tidak harus terus bergantung pada rumah warga sekitar.
Anita juga berharap pemilik rumah yang disebut menjadi titik awal munculnya api dapat menunjukkan iktikad baik dan turut membantu meringankan beban kerugian yang dialami keluarga terdampak.
“Harapan kami ada tanggung jawab dan bantuan untuk meringankan beban kami,” kata Anita.
Bagi para korban, bantuan material bangunan bukan sekadar persoalan memperbaiki dinding dan atap rumah. Lebih dari itu, pembangunan kembali rumah menjadi harapan untuk memulihkan kehidupan mereka setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.
Selama bantuan tersebut belum tersedia, para korban masih harus menjalani hari-hari mereka sebagai penyintas kebakaran dengan menumpang di rumah tetangga, sembari menunggu kepastian mengenai masa depan tempat tinggal mereka. (Nongki Finmeta)
Follow