Musim Hujan Mulai Turun, Warga NTT Diminta Waspada Penyakit Diare

Date:

Share:

Kupang, seputar-ntt.com – Pergantian musim dari kemarau ke penghujan di Nusa Tenggara Timur kerap membawa lonjakan kasus penyakit berbasis lingkungan, salah satunya diare. Peningkatan curah hujan memicu banjir dan genangan air yang dapat mencemari sumber air bersih, sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Diare ditandai dengan buang air besar dengan frekuensi meningkat dan konsistensi cair. Pada anak-anak dan lansia, kondisi ini dapat cepat memicu dehidrasi berat bila tidak ditangani. Sebagian besar kasus diare bersumber dari konsumsi air atau makanan yang terkontaminasi bakteri, virus, maupun parasit seperti E. coli dan salmonella.

Musim hujan memperbesar risiko tersebut karena air hujan mengalir membawa kotoran dari permukaan tanah ke sumur dangkal dan sumber air terbuka. Di banyak wilayah NTT yang masih mengandalkan sumur gali dan mata air tanpa perlindungan, pencemaran semacam ini menjadi pintu masuk utama penularan penyakit perut.

Langkah pencegahan paling mendasar adalah memasak air hingga mendidih sebelum dikonsumsi, terutama bagi air dari sumur dangkal yang warna atau baunya berubah. Mencuci tangan dengan sabun di bawah air mengalir sebelum makan dan sesudah dari toilet juga terbukti efektif memutus rantai penularan kuman penyebab diare.

Kebersihan makanan tak kalah penting. Sayuran dan buah sebaiknya dicuci dengan air bersih mengalir, makanan dimasak hingga matang sempurna, dan makanan sisa disimpan tertutup agar tidak dihinggapi lalat. Warung dan pedagang kaki lima juga disarankan menjaga kebersihan wadah serta alat makan yang digunakan pelanggan.

Bagi keluarga dengan balita, orang tua perlu waspada terhadap tanda dehidrasi: mata cekung, mulut kering, buang air kecil berkurang, dan anak menjadi lemas. Penanganan pertama yang dianjurkan adalah pemberian cairan rehidrasi oral alias oralit secara bertahap, kemudian segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila frekuensi BAB tidak berkurang dalam dua puluh empat jam.

Upaya lingkungan turut menentukan. Masyarakat diharapkan tidak membuang sampah dan kotoran ke sungai atau kolong rumah, menjaga septictank agar tidak bocor, serta mengelola sampah organik agar genangan tidak menjadi sarang lalat dan tikus. Dapur air yang bersih dan saluran pembuangan lancar adalah benteng pertama keluarga di musim hujan.

Selama masih berada di musim pancaroba, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kunci memutus rantai penularan diare. Cuci tangan, air dimasak, makanan matang, dan lingkungan bersih adalah empat langkah sederhana yang murah namun menyelamatkan. Kesehatan keluarga NTT di musim penghujan dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari.(*)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Prakiraan Cuaca NTT Jumat 9 Oktober 2026: Cerah Berawan, Waspada Angin Kencang

Prakiraan cuaca NTT 9 Oktober 2026: Kupang cerah berawan tanpa hujan, suhu 14-34 Celsius, waspada angin kencang 32 km/jam di Sabu dan Waingapu.

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...