Ende, seputar-ntt.com – Desa Waturaka di Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, menjadi pintu masuk utama wisatawan yang hendak menyaksikan keajaiban Danau Kelimutu, danau tiga warna yang termasyhur itu. Desa yang terletak di kaki gunung ini kini berkembang menjadi desa wisata dengan homestay dan kehidupan masyarakat agraris yang masih kental.
Dari pusat Kota Ende, perjalanan menuju Waturaka memakan waktu sekitar dua jam berkendara melalui jalur Ende–Moni yang berkelok menembus perbukitan. Sepanjang jalan, hamparan sawah, kebun kelapa, dan kampung-kampung tradisional Manggarai dan Lio menghiasi pemandangan.
Posisi Waturaka sangat strategis. Dari desa ini, kawah Kelimutu hanya berjarak sekitar lima kilometer, sehingga banyak wisatawan menginap di homestay warga demi bisa berangkat subuh ke titik pandang danau. Momentum matahari terbit dari puncak Kelimutu adalah momen yang paling banyak dicari.
Masyarakat Waturaka mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Mereka menanam padi di sawah terasering, ubi, kelapa, dan kakao. Interaksi wisatawan dengan aktivitas bertani warga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan rutinitas desa.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah keluarga di Waturaka mengubah sebagian rumah mereka menjadi homestay sederhana. Tarif yang terjangkau, keramahan tuan rumah, dan sarapan dengan hasil kebun membuat pengalaman menginap di desa ini berbeda dari hotel di kota.
Pemerintah Kabupaten Ende bersama pelaku wisata komunitas juga mendorong Waturaka sebagai bagian dari paket wisata Kelimutu yang menggabungkan tracking, kuliner lokal, dan pengenalan budaya Lio. Atraksi seperti tari gawi dan penyajian makanan adat sesekali dipentaskan bagi rombongan wisatawan.
Wisatawan yang berkunjung diminta menjaga etika desa, antara lain meminta izin sebelum memotret aktivitas warga dan tidak meninggalkan sampah di area permukiman maupun kawasan gunung. Kesadaran kolektif semacam ini penting agar pariwisata memberi manfaat tanpa mengganggu keseharian masyarakat.
Cuaca di Waturaka cenderung sejuk karena desa berada pada ketinggian lebih dari seribu meter di atas permuat laut. Wisatawan disarankan membawa jaket, terutama bagi yang berencana berangkat ke titik pandang Kelimutu sebelum fajar ketika suhu bisa turun drastis.
Musim kemarau antara bulan April hingga Oktober menjadi waktu terbaik berkunjung, karena langit cenderung cerah dan jalan menuju puncak lebih aman dari kabut tebal. Pada musim hujan, perjalanan tetap bisa dilakukan namun menuntut kewaspadaan ekstra.
Bagi pencinta alam yang ingin memahami Kelimuti lebih dalam, Waturaka bukan sekadar tempat transit. Desa ini adalah jendela untuk melihat bagaimana masyarakat hidup harmonis di kaki gunung suci Flores, menjaga tradisi sambil merangkul kedatangan tamu dari berbagai penjuru dunia.(*)
Follow