Kupang, seputar-ntt.com – Kebiasaan sarapan yang sering dilewatkan dan jajanan sembarangan menjadi tantangan besar bagi kesehatan anak usia sekolah di Nusa Tenggara Timur. Tenaga kesehatan di sejumlah puskesmas berulang kali menemukan keluhan lemas, sulit konsentrasi, dan nyeri lambung pada siswa yang rutin berangkat sekolah tanpa makan terlebih dahulu.
Anak usia 7 hingga 12 tahun membutuhkan asupan energi yang stabil untuk menopang aktivitas belajar selama kira-kira enam jam di sekolah. Ketika tubuh kekurangan glukosa pada pagi hari, kemampuan fokus dan daya ingat jangka pendek menurun. Kondisi ini paling terasa pada jam pelajaran kedua hingga keempat, saat cadangan energi anak sudah menipis.
Musim pancaroba seperti sekarang menambah risiko lain. Perubahan suhu dan kelembapan yang cepat membuat daya tahan tubuh anak menurun, sehingga pola makan yang tidak teratur lebih mudah berujung pada sakit. Kombinasi sarapan terlewat, jajanan manis berlebihan, dan kurang air putih menjadi pintu masuk keluhan batuk, pilek, hingga gangguan pencernaan.
Solusi paling praktis bukan menu mahal. Sarapan sederhana berupa nasi sisa semalam yang dihangatkan dengan telur, atau roti dengan pisang dan segelas susu, sudah memadai untuk kebutuhan energi pagi anak sekolah. Poin kuncinya adalah keteraturan waktu, bukan keragaman bahan.
Untuk bekal, orang tua disarankan memilih makanan yang tetap aman dikonsumsi beberapa jam setelah disiapkan. Nasi dengan lauk kering seperti ayam goreng atau telur dadar lebih aman daripada lauk berkuah yang mudah basi di iklim panas. Buah lokal seperti pisang, pepaya, atau jeruk menjadi pelengkap murah yang mudah didapat di pasar NTT.
Soal jajanan, anak tidak harus dilarang total. Langkah yang lebih realistis adalah memberi uang jajan secukupnya dan membiasakan memilih jajanan yang dimasak matang, bukan gorengan yang minyaknya dipakai berulang atau minuman warna-warni tanpa keterangan bahan. Kantin sehat yang mulai dirintis di sejumlah sekolah juga patut didukung orang tua.
Air putih adalah bagian yang paling sering terlupakan. Anak yang aktif bermain saat jam istirahat membutuhkan sekitar enam hingga delapan gelas air per hari. Membiasakan membawa botol air dari rumah menurunkan ketergantungan pada minuman manis kemasan yang dijual di sekitar sekolah.
Perubahan kecil yang dilakukan konsisten jauh lebih berdampak daripada aturan ketat yang hanya bertahan seminggu. Ketika keluarga menjadikan sarapan dan bekal sebagai rutinitas, anak tidak hanya lebih siap belajar, tetapi juga menyerut kebiasaan sehat itu hingga dewasa.(*)
Follow