Manggarai, seputar-ntt.com — Di tengah kepanikan dan kesedihan yang masih menyelimuti para korban gempa di Flores, ada kelompok yang membutuhkan perhatian lebih: penyandang disabilitas, terutama anak-anak.
Di antara tenda-tenda pengungsian dan wajah-wajah yang masih menyimpan kecemasan, Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) bersama istrinya, Julie Soetrisno Laiskodat, yang juga Anggota DPR RI, turun langsung menemui para pengungsi.
Kunjungan itu tidak sekadar membawa bantuan. Mereka datang untuk melihat lebih dekat kondisi para korban, mendengar keluhan, sekaligus memastikan penyandang disabilitas tidak terlewatkan dalam penanganan pascabencana.
Bagi Julie, anak-anak penyandang disabilitas membutuhkan perhatian yang lebih komprehensif. Bencana bukan hanya persoalan kehilangan rumah, harta benda, atau tempat tinggal sementara, tetapi juga menyangkut keberlanjutan hidup dan masa depan mereka.
“Bencana itu tidak ada yang tahu dan kita harus bergandengan tangan menghadapi keadaan ini,” ujar Julie.
Menurut dia, perhatian terhadap anak-anak korban gempa harus menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Mereka tidak boleh kehilangan kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan hanya karena bencana datang tanpa diduga.
“Yang paling penting pascagempa ini adalah memikirkan masa depan anak-anak setelah bencana ini. Mereka punya hak yang sama dengan yang lain untuk memperoleh masa depan yang lebih baik,” katanya.
Julie menegaskan, bantuan untuk korban bencana tidak boleh berhenti pada pemberian kebutuhan sehari-hari. Ada pekerjaan yang jauh lebih panjang, yakni memastikan kehidupan anak-anak dan kelompok rentan tetap berjalan setelah masa tanggap darurat berakhir.
“Kita tidak hanya membawa bantuan saja, tetapi juga bekerja untuk mengamankan masa depan generasi masa depan kita,” ujarnya.
Bukan Sekadar Datang, tetapi Mendengar
Kehadiran VBL di tengah para pengungsi juga membawa pesan lain: bahwa korban bencana tidak boleh merasa sendirian.
Ia menyapa warga, mendengarkan keluhan mereka, melihat kondisi pengungsian, dan memberikan penguatan kepada masyarakat yang sedang melewati masa sulit.
Bagi para korban, perhatian semacam itu memiliki arti yang jauh lebih besar dari sekadar bantuan material. Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, ada perasaan bahwa masih ada orang yang datang untuk mendengar dan berdiri bersama mereka.
Terlebih bagi penyandang disabilitas, situasi bencana sering kali menghadirkan tantangan berlapis. Akses terhadap tempat pengungsian, layanan kesehatan, pendidikan, kebutuhan khusus, hingga perlindungan dan rasa aman membutuhkan perhatian yang tidak bisa disamakan dengan penanganan korban pada umumnya.
Karena itu, perhatian terhadap kelompok disabilitas harus menjadi bagian dari seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari masa darurat, pemulihan, hingga pembangunan kembali kehidupan mereka.
Kunjungan VBL dan Julie menjadi pengingat bahwa di balik angka korban dan kerusakan akibat gempa, ada manusia-manusia yang sedang berjuang memulai kembali kehidupannya.
Ada anak-anak yang ingin kembali bersekolah. Ada penyandang disabilitas yang membutuhkan akses dan pendampingan. Ada keluarga yang ingin kembali memiliki rumah dan kehidupan yang layak.
Mereka bukan sekadar korban bencana. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan perlindungan, pendidikan, kesehatan, dan masa depan yang lebih baik.
Gempa mungkin mengguncang tanah Flores. Namun, kepedulian, solidaritas, dan kemanusiaan tidak boleh ikut runtuh. Di tengah puing-puing dan tenda pengungsian, harapan justru harus terus dibangun—terutama untuk mereka yang paling membutuhkan uluran tangan. (jrg)
Follow