Waingapu, seputar-ntt.com – Di tengah Kota Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, berdiri sebuah kampung adat yang menyimpan jejak kerajaan Sumba: Kampung Prailiu. Kampung ini merupakan bekas pusat Kerajaan Kahumbu, salah satu kerajaan besar di tanah Sumba, dan hingga kini masih mempertahankan rumah-rumah adat beratap menjulang dengan tumpukan tanduk kerbau di tiang depannya.
Prailiu berjarak hanya sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Waingapu, sehingga menjadi salah satu destinasi budaya paling mudah dijangkau wisatawan yang berkunjung ke Sumba Timur. Berbeda dengan kampung adat di pedalaman yang menuntut perjalanan berjam-jam, Prailiu bisa dikunjungi dalam waktu singkat, baik dengan kendaraan sewa maupun ojek daring.
Daya tarik utama kampung ini adalah arsitektur rumah adat Sumba yang tersusun mengelilingi lapangan batu. Rumah-rumah dengan dinding kayu dan atap alang-alang miring tinggi itu dibangun mengikuti tata ruang tradisional, lengkap dengan kubur-kubur batu megali di sisi lapangan yang menandakan usia kampung sudah ratusan tahun.
Jumlah tanduk kerbau yang terpajang di tiang depan rumah warga menjadi penanda status sosial pemiliknya. Semakin banyak tanduk yang tergantung, semakin tinggi derajat keluarga dalam struktur masyarakat adat, karena tanduk tersebut berasal dari pesta-pesta adat besar yang membutuhkan kemampuan ekonomi yang tidak kecil.
Bagi wisatawan, Prailiu juga dikenal sebagai tempat mempelajari tenun ikat Sumba. Sejumlah perempuan kampung masih menenun di teras rumah mereka, menganyam benang berwarna dengan motif-motif khas seperti kuda, buaya, mamuli, dan tokoh dalam mitologi Marapu. Kain hasil tenunan kampung ini biasanya dijual langsung kepada pengunjung dengan harga yang bervariasi sesuai lama pengerjaan.
Satu helai kain tenun ikat bermotif halus bisa memakan waktu pengerjaan berbulan-bulan. Karena itu, para penenun lokal berharap kunjungan wisatawan tidak berhenti pada sesi berfoto semata, tetapi juga mengapresiasi nilai kerja di balik setiap lembar kain.
Kunjungan ke Prailiu paling nyaman dilakukan pada pagi atau sore hari ketika matahari tidak terlalu terik. Wisatawan disarankan berpakaian sopan, meminta izin sebelum memotret warga, dan membawa uang tunai karena belum semua penjual tenun memiliki alat pembayaran digital.
Keberadaan kampung seperti Prailiu menunjukkan bahwa Sumba menyimpan warisan budaya yang tidak hanya hidup di museum, melainkan tetap dirawat oleh komunitasnya sehari-hari. Bagi perjalanan di Sumba Timur, singgah sejenak ke kampung ini memberi kedalaman yang jarang ditemukan di destinasi alam.(*)
Follow