Oleh: Frengkianus Tura, Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA KupangĀ
Perkembangan zaman modern telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi (IPTEK), dan globalisasi dapat memudahkan manusia dalam aktivitas sehari-hari. Setiap pribadi mampu berkomunikasi dengan cepat, mengakses informasi tanpa batas, dan menjalankan pekerjaan dengan bantuan teknologi yang semakin canggih. Namun di tengah kemajuan tersebut, muncullah berbagai tantangan yang mempengarughi kehidupan sosial dan spiritual manusia. Tantangan yang muncul ialah semakin menurunnya rasa kebersamaan, persaudaraan dan minimnya rasa empati dan solidaritas akibat berkembangnya sifat individualisme, materialisme dan ketergantungan diri terhadap teknologi.
Dalam situasi tersebut, Gereja Katolik menawarkan Sakramen Ekaristi sebagia sumber kekuatan spiritualitas sekaligus menjadi sarana untuk membangun persaudaraan yang sejati. Ekaristi tidak hanya merupakan perayaan liturgi yang mengingatkan umat akan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus, tetapi juga menjadi tanda nyata persatuan umat beriman dalam satu tubuh Kristus. Menurut Emanuel Martasudjita, Pr dalam bukunya: Ekaristi- Makna Kedalaman Bagi Perutusan di Tengah Dunia, dikatakan bahwa āPerayaan Ekaristi juga meneguhkan Gereja dalam kesatuan sebagai tubuh Kristus. Santo Paulus menunjuk daya pemersatu dari partisipasi dalam perjamuan Ekaristi, seperti ditulisnya kepada umat di Korintus: āBukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dalam Kristus? Sebab ada satu roti, kita yang banyak adalah satu tubuh, karena kita semua ambil bagian dalam satu rotiā (Kor 10:16- 17).ā Melalui Ekaristi, umat kristiani diajak untuk menyadari bahwa mereka adalah saudara dan saudari yang dipersatukan oleh kasih Allah.
Sakramen Ekaristi mempunyai makna yang krusial dalam membangun persaudaraan persaudaraan di tengah tantangan zaman modernitas. Nilai-nilai pemersatuan, kkasih, solidaritas, dan pelayanan yang terkandung dalam Sakramen Ekaristi mampu menjadi jawaban atas berbagai tantangan sosial yang muncul akibat perkembangan zaman. Dengan demikian, penghhayatan yang mendalam terhadap Ekaristi sangat dibutukan agar umat mampu menjaga hubungan yang harmonis dengan Allah maupun dengan manusia.
Ekaristi Sebagai Sumber Persatuan di Tengah Individualisme Modern
Sikap idividualisme merupakan salah satu ciri utama yang meningkat dalam masyarakat modern. Banyak orang lebih fokus pada sifat egoisme, pencapaian karier daripada membanugun relasi yang sehat dengam orang lain. Perkembangan media sosial dan teknologi digital memang membawa dampak positif, yakni memudahkan cara berkomunikasi dalam jangkauan ruang dan waktu, mengakses informasi dengan cepat dan berita-berita aktual, contohnya mengakses berita tentang gempa bumi di Filipina, dan di Sulawesi utara. Tetapi juga ada dampah negatifnya yang terbukti dalam banyak kasus justru membuat hubungan antarmanusia menjadi leih dangkal. Banyak orang lebih banyak mempunyai teman di media maya, tetapi merasa kesepian dalam kehidupan nyata. Atau sering diucapkan bahwa āmerasa kesepiaan di tengah keramaian.ā
Dalam konteks ini, Sakramen Ekaristi mempunyai makna penting sebagai sarana pemersatu umat kristiani. Saat mengikuti perayaan Ekaristi, umat hadir dari berbagai latar belakang yang berbeda berkumpul dalam satu iman dan satu tujuan yang sama, yakni memuliakan Allah dan menerima rahmat-Nya. Perbedaan umur, status sosial, pendidikan, pekerjaan, dan budaya tidak menjadi tembok pemisah bagi mereka untuk berkumpul bersama sebagai satu keluarga atau anak-anak Allah.
Pengalaman kebersamaan dalam Ekaristi mengajarkan bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Setiap orang membutuhkan kehadiran orang dalam hidupnya. Saling memberi rasa empati terhadap sesama di tengah kehidupan manusia yang semakin kultural. Ketika umat menerima Tubuh Kristus yang satu dan sama, harus menyadari bahwa mereka adalah bagian dari satu tubuh yang tidak dapat dipisahkan. Pengahyatan ini sangat dianjurkan dan penting untuk dihidupi terus- menerus oleh manusia di tengah tantangan zaman modern ini. Penghayatan akan Sakramen Ekaristi menjadi pengingat bahwa kehidupan yang bermakna bukan hanya diukur dari keberhasilan individual, tetapi juga dari kemampua seseorang yang hidup dalam kebersaman dan persaudaraan yang harmonis dengan sesama umat kristiani maupun non kritiani.
Ekaristi Mengajarkan Kasih yang Melampaui Sekat Sosial
Kasih merupakan salah makna yang paling inti dalam Sakramen Ekaristi. Seluruh perayaan Ekaristi berpusat pada kasih Kristus yang rela menyerahkan diri-nya demi keselamatan umat manusia. Kasih tersebut menjadi teladan bagi setiap oarang yang percaya dan mengikuti-Nya.
Di zaman modern ini masyarakat sering kali dihadapkan pada berbagai bentuk konflik sosial dan diskriminasi. Perbedaan suku, budaya dan agama sering menyebabkan perpecahan dalam kehidupan bersama. Rasa cinta akan persaudaraan mulai memudar dan digantikan dengan iri hati, saling curiga, hingga sampai pada permusuhan.
Konflik sosial yang marak terjadi di zaman modern ini, maka makna Ekaristi menawarkan pesan yang sangat relevan untuk menghadapi situasi tersebut. Dalam Ekaristi Kristus hadir bagi semua orang tanpa membedakan latar belakang mereka. Melalui kehadiran-Nya mengajaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan Allah. āEkaristi adalah orang yang sungguh mengalami kasih Tuhan yang begitu mendalam dalam perayaan suci itu didorong untuk ikut ambil bagian dalam perjuangan hidup yang konkret bagi dunia yang lebih baik dan masyarakat yang damai, adil, dan penuh kasih.ā Oleh karena itu, umat kristiani yang merayakan Ekaristi dipanggil untuk menghormati dan mengasihi sesama tanpa memandang sekat-sekat sosial yang ada.
Ekaristi dan Semangat Solidaritas dalam Menghadapi Tantangan Zaman
Modernitas membawa berbagai kemajuan, tetapi juga menimbulkan banyak persoalan sosial. Salah satu persoalan sosial yang sering terjadi di berbagai tempat yaitu minimnya rasa empati dan solidaritas terhadap orang yang sedang mengalami kecelakaan lalulintas atau kecelakaan lainnya. Yang sangat disayangkan bahwa manusia lebih mengutamakan membuat video lalu mengupdate di media sosial untuk mencari keuntungan dan viralitas dibandingkan memberi bantuan yang merawat demi keselamatan korban kecelakaan. Hal ini sangat kontekstual di era modern ini. Persaudaraan yang lahir dari Ekaristi harus diwujudkan dalam tindakan solidaritas yang konkret. Misalnya, membantu masyarakat yang mengalami kecelakaan dan bencana alam.
Berdasarkan uraian ini, dapat disimpulkan bahwa Sakramen Ekaristi memiliki makna yang sangat penting dalam merawat persaudaraan umat di zaman modernitas. Ekaristi menjadi sumber persatuan di tengah berkembangnya individualisme, egoisme, mengajarkan kasih yang melampaui berbagai perbedaan sosial, menumbuhkan solidaritas terhadap sesama. Nilai-nilai yang terkandung dalam Ekaristi sangat relevan untuk menjawabi berbagai tantangan kehidupan modern yang sering kali memudarkan hubungan antarumat manusia. Oleh karena itu, setiap umat kristiani tidak hanya menghadiri perayaan Ekaristi sebagai rutinitas keagamaan, tetapi juga menghidupi maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Ekaristi menjadi sumber kekuatan yang mempererat persatuan, membangun persaudaraan dan menghadirkan kasih Kristus di tengah dunia terus berkembang.(*)
Follow