Mengintip Sawah “Spider Webs” di Desa Meler Manggarai

Date:

Share:

Ruteng, seputar-ntt.com – Belum lengkap perjalanan wisatawan baik lokal maupun manca negara yang berkunjung ke Kabupaten Manggarai bila belum menikmati sawah “spider webs”. Sebutan ini dikenal lantaran bentuk sawah yang menyerupai jaring laba-laba. Sawah tersebut lebih dikenal dengan nama Lodok Meler. Terletak di Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai.

Lodok Meler hanya satu dari sekian lodok yang ada di Manggarai Raya yang memiliki keindahan dan tidak ditemukan ditempat lain di dunia. Untuk menikmati keindahan Lodok Meler, pengunjung harus mendaki bukit sekitar dua ratus meter. Tempat ini sudah menjadi tempat berfoto bagi para pengunjung dengan lataw sawah jaring laba-laba.

Di bawah kaki bukit, berdiri rumah sederhana keluarga Mama Susana, beserta ternak babi dan ayam milik keluarganya. Rumah mama ibarat gerbang dimulainya pendakian pendakian ke puncak bukit kecil Cancar.

“Pembagian lodok seperti itu karena kurang manusia. Iya, kurang manusia dulu, sudah ratusan tahun sawah laba-laba itu. Lodok sudah dibagikan sejak zaman jajah Belanda,” ungkap Mama Susana, Warga Cancar saat bercerita tentang asal muasal sistem pembagian sawah jaring laba-laba.

Setiap kampung di Manggarai memiliki pembagian lodok ini, tetapi hanya di Cancar, lokasi dengan pemandangan terbaik untuk menyaksikan sawah berbentuk jaring laba-laba.

“Di kampung Dalo ada, tapi tidak ada tempat pemandangannya. Hanya di sini saja yang ada bukit sedikit. Di sini tempat yang paling banyak lingko lodok. Kalau di kampung yang lain sebatas satu hektar, di sini banyak sekali,” ucap Mama Susana.

Sawah tradisional petani Manggarai ini bukan circle crop buatan makhluk luar angkasa. Tangan manusia yang sudah menciptakan sudut dan garis lurus demikian presisi ini. “Orang yang kerja itu harus rapi dengan warisan (sawahnya). Batasnya dengan di sebelah-sebelah itu harus lurus,” kata Mama Susana.

Pada masing-masing pusat sawah, terdapat teno, yakni kayu yang menjadi titik pusat ditariknya garis menuju batas terjauh. Pusat ini juga disebut lodok. Tu’a teno atau tuan tanah biasanya mendapatkan bagian terbesar.

“Kalau tu’a golo dan tu’a teno, sawahnya besarnya. Kalau rakyat biasa, sawahnya kecil,” kata ibu dari tujuh orang anak ini. (MP/ VM)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...