Peluang Tanaman Suweg dan Porang Sebagai Komoditas Ekonomi dan Pangan Lokal di Kabupaten Belu

Date:

Share:

Kupang, seputar-ntt.com – PANGAN dan gizi merupakan unsur yang sangat penting dan strategis dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis dan politis. Implikasinya bahwa penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai harus terjamin, sehingga dapat memenuhi kebutuhan penduduk secara keseluruhan pada setiap saat sesuai dengan pola makan dan keinginan mereka agar sehat dan aktif.

Dalam upaya membangun SDM yang berkualitas, perlu didorong perilaku dan kebiasaan masyarakat agar memiliki budaya makan dan hidup sehat. Hal ini dipandang perlu digalakkan penganekaragaman pangan serta mengembangkan sikap dan perilaku keluarga dan masyarakat agar tetap menyukai makanan lokal, meningkatkan pendapatan dengan perluasan lapangan pekerjaan dan kesempatan berusaha serta upaya lainnya sesuai kebutuhan masyarakat.

Suweg (Amorphophallus paeoniifolius Dennst, Nicolson), dan Porang (Amorphophallus muelleri B.) merupakan tanaman umbi-umbian dari keluarga Arasease yang mampu hidup pada beragai jenis kondisi tanah, termasuk lahan marginal. Suweg dan

porang merupakan tanaman umbi-umbian minor yang jarang dibudidayakan. Namun, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan terbatasnya lahan pertanian yang subur, maka dua jenis tanaman ini dapat menjadi alternatif dalam program diversifikasi pangan, selain karena kandungan gizinya yang tidak kalah dengan umbi-umbian lain seperti kentang, ubi kayu dan ubi jalar, juga karena tanaman ini mampu tumbuh dan berproduksi pada kondisi intensitas cahaya rendah, misalnya di bawah tegakan hutan. Dengan demikian maka tanaman suweg dan porang dapat dijadikan sebagai pangan lokal alternatif, bernilai ekonomis, sekaligus mengatasi persoalan keterbatasan lahan pertanian.

Umbi suweg dan porang umumnya hanya dimanfaatkan sebagai pangan alternatif terutama pada masa-masa paceklik, di mana ketersediaan pangan utama seperti jagung, padi dan umbi-umbian lainnya tidak mencukupi kebutuhan. Umbi maek/suweg dapat dikonsumsi langsung setelah melalui tahapan perendaman dan perebusan sedangkan umbi maek bako/porang yang biasanya mengandung rasa gatal perlu diberi perlakuan khusus seperti penjemuran, dan lain-lain untuk menghilangkan rasa gatal sebelum dimasak untuk konsumsi atau dibuat tepung untuk pangan olahan lainnya.

Di beberapa tempat, maek dan maek bako juga sudah mulai memiliki nilai ekonomis karena sudah dilirik oleh pasar luar daerah sebagai bahan baku industri dan farmasi. Dari Gambaran di atas menunjukan bahwa selama ini maek dan maek bako yang dianggap sebagai tanaman minor, memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai pangan lokal sumber karbohidrat dan juga sebagai komoditas ekonomi. Sementara itu, potensi suweg (maek) dan porang (maek bako) sebagai komoditi ekonomis dan pangan lokal di Kabupaten Belu hingga saat ini belum diketahui karena belum ada kajian akademik tentang hal itu.

Untuk itu telah dilakukan penelitian guna mengetahui potensi suweg (maek) dan porang (maek bako) sebagai komoditas ekonomi dan pangan local di Kabupaten Belu.

Hasil penelitian menunjukan bahwa : (1) Terdapat dua jenis tanaman talas-talasan genus Amorphophalus yang ada di Kabuapetan Belu yakni Maek (Me Loi/Maek Diak) atau Suweg dan Maek Bako (Me Jon) atau Porang.

(2) Maek dan Maek Bako menyebar di delapan kecamatan di Kabupaten Belu dengan rata-rata kepadatan populasi sedang, dan menyebar di sepertiga hingga setengah luas wilayah desa/kecamatan, dengan pola sebaran hampir berimbang antara maek dan maek bako,

(3) Ada potensi produksi suweg (maek) dan porang (maek bako) non budidaya yang dapat tumbuh dan menghasilkan produksi di kawasan hutan lindung dan kawasan hutan produksi yang tersebar di 10 Kecamatan di Kabupaten Belu seluas 41.769,79 ha. Produksi Suweg (maek) untuk mendukung alternatif ketersediaan pangan lokal sumber kabohidrat dan produksi porang (maek bako) untuk mendukung peningkatan pendapatan masyarakat,

(4) Total pendapatan setiap hektar untuk suweg (maek) sebesar Rp.31.490.800 atau Rp. 2.624.233/bulan. Sedangkan total pendapatan setiap hektar untuk porang (maek bako) sebesar Rp.35.060.800 atau Rp. 2.921.733/bulan. Nilai R/C Ratio > 1 untuk suweg (maek) dan porang (maek bako) non budidaya berarti usaha ini menguntungkan . Nilai B/C Ratio > 0 untuk suweg (maek) dan porang (maek bako) non budidaya berarti usaha ini layak atau memberi manfaat, (5) Total pendapatan setiap hektar untuk porang (maek bako) budidaya di Kabupaten Belu sebesar Rp.54.041.800 atau Rp.

4.503.483/bulan. Nilai R/C Ratio 2,71 > 1 berarti usaha ini menguntungkan . Nilai B/C Ratio 1,71 > 0 berarti usaha ini layak atau memberi manfaat. Pada tahun 2017 dibudidayakan sebanyak 150 ha berarti di Kabupaten Belu pada Tahun 2010, kurang lebih ada produksi

umbi basah porang (maek bako) sebanyak 3.600 ton atau 612 ton gaplek porang (maek bako) atau ada penerimaan dari luasan tanam 150 ha sebesar Rp. 12. 852.000.000,- dan (6)

Berdasarkan Kandungan gizi dan cara pengolahannya, suweg (maek) sebaiknya diprioritaskan sebagai pangan lokal alternatif untuk dikonsumsi sedangkan porang (maek bako) diproritaskan sebagai pangan ekonomis untuk menunjang pendapatan masyarakat.

Suweg (maek) sebaiknya dikonsumsi sebagai makanan selingan pagi dan selingan sore dengan meningkatkan keanekaragaman produk hasil olahan untuk dikonsumsi. Sedangkan porang sebaiknya diolah sebagai pangan ekonomis dengan terus meningkatkan

keanekaragaman produknya (jangan hanya dijual dalam bentuk gaplek saja), sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi pendapatan masyarakat.

Untuk mendukung peningkatan produktivitas hasil porang (maek bako) yang dibudidayakan agar hasilnya dapat berbeda dengan non budidaya, Pemerintah Kabupaten Belu pada tahun-tahun selanjutnya perlu mengalokasikan angaran untuk paket budidaya meliputi benih, pupuk, pestisida sampai dengan penanganan panen dan pasca panen. Pada sisi lain, untuk mendukung peningkatan nilai tambah dari hasil produksi porang, Pemerintah Kabupaten Belu perlu mendukung dengan teknologi pengolahan dan kemasan serta penelitian lanjutan yang mendukungnya, sehingga akan dihasilkan anekaragam produk hasil olahan porang (maek bako).

Perlu juga adanya gerakan/kampanye konsumsi suweg (maek) sebagai salah satu potensi pangan lokal yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat serta membudidayakan suweg (maek) dan porang (maek bako) di pekarangan sebagai ketahanan pangan rumah tangga masyarakat. Disamping itu dukungan komitmen Pemerintah Kabupaten Belu untuk membudidayakan porang (maek bako) dalam skala ekonomi, perlu juga mengajak pihak swasta dan berbagai pihak yang terkait untuk mendukung. *Peneliti, Nixon Balukh dan Mariano Nugraha. (advertorial/balitbangdantt/bappedakabupatenbelu)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...