RUTENG, seputar-ntt.com – Tari Caci, seni bela diri tradisional masyarakat Manggarai di Flores, NTT, kembali dipentaskan pada sejumlah agenda budaya akhir pekan ini, menarik perhatian wisatawan dan generasi muda untuk mengenal warisan leluhur yang hampir tergerus waktu.
Caci dikenal sebagai tarian pergulatan antara dua penari pria yang saling menyerang dengan cambuk dari rotan dan perisai kayu berbentuk bundar. Satu pihak bertindak sebagai penyerang yang melecutkan rotan, sementara lawannya berperan sebagai pembela yang menangkis menggunakan tameng. Setiap serangan dan tangkisan diiringi tabuhan gendang dan gong yang mengatur ritme pertarungan.
Bagi masyarakat Manggarai, Caci bukan sekadar hiburan. Tarian ini adalah simbolisasi kehidupan pertanian, di mana cambukan rotan melambangkan hujan yang menyuburkan tanah dan kesuburan yang diharapkan datang kepada bumi serta ternak. Caci tradisional dipentaskan saat rangkaian upacara adat, terutama selepas masa panen padi sebagai ungkapan syukur kepada leluhur dan Tuhan.
Perlengkapan Caci memiliki makna tersendiri. Penutup kepala penari dilengkapi hiasan tanduk kerbau sebagai simbol kekuatan, sementara kain tenun yang dikenakan menampilkan motif khas Manggarai yang sarat filosofi. Perisai kayu diukir dengan pola geometris yang juga lazim ditemukan pada rumah adat Mbaru Niang di kampang Wae Rebo dan Todo.
Dalam beberapa tahun terakhir, Caci mulai dipentaskan secara lebih luas di luar konteks ritual, termasuk pada perayaan hari besar daerah, festival budaya, dan pertunjukan sambutan tamu di Manggarai. Pemerintah kabupaten juga mendorong Caci menjadi daya tarik wisata budaya, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo yang kerap melanjutkan perjalanan ke pedalaman Flores.
Kekhawatiran utama para pelaku budaya adalah regenerasi. Penari Caci yang andal umumnya berusia dewasa, sementara anak muda lebih tertarik pada kegiatan modern. Sejumlah sangkar seni dan komunitas adat di Ruteng dan sekitarnya kini membuka latihan rutin Caci bagi pelajar, agar keterampilan melecut dan menangkis tidak punah bersama generasi tua.
Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan Caci secara langsung, sejumlah kampang adat di Manggarai menerima kunjungan dengan pengaturan sebelumnya. Pertunjukan biasanya dipadukan dengan penjelasan tentang rumah adat dan sistem komunitas Manggarai, memberikan pengalaman budaya yang utuh.
Dari pergulatan rotan yang bertalu diiringi gendang itu, Caci menyimpan pesan bahwa kekuatan sejati masyarakat Manggarai terletak pada keseimbangan antara manusia, alam, dan leluhur. Menjaga tarian ini berarti menjaga identitas Flores yang tetap hidup di tengah deras arus zaman.(*)
Follow