Kupang, seputar-ntt.com – Musim pancaroba yang kini bergeser menuju periode hujan membuat kondisi jalan di sejumlah ruas antarkota Nusa Tenggara Timur mulai berubah. Jalan yang sepanjang kemarau kering dan berdebu berubah licin dalam hitungan menit setelah hujan turun, dan petunjuk paling umum yang muncul adalah meningkatnya sepeda motor yang tergelincir di tikungan serta kendaraan roda empat yang terperosok di ruas tanah. Bagi pengguna jalan di NTT yang sehari-hari menempuh jarak jauh antarpulau maupun antarkabupaten, menyesuaikan cara berkendara dengan perubahan musim bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan keselamatan.
Perubahan paling nyata saat hujan mulai rutin turun adalah daya cengkeram ban terhadap aspal. Lapisan debu dan sisa material tambang yang menumpuk selama kemarau bercampur air hujan pertama dan membentuk lapisan licin yang hampir menyerupai lapisan es. Kondisi ini paling berbahaya pada dua pekan pertama masa hujan, sebelum hujan berikutnya memperbaiki permukaan jalan dengan membasuhinya bersih.
Karena itu, pemeriksaan kondisi ban menjadi langkah pertama yang tidak boleh dilewatkan. Ban dengan kedalaman alur di bawah batas wajib ganti tidak mampu membuang air di permukaan jalan dan sangat mudah kehilangan traksi. Petunjuk praktisnya sederhana: jika alur ban sudah rata dengan penanda ketinggian di dinding ban, atau sudah lebih dari lima tahun dipakai walau belum botak, saatnya mengganti.
Kedua, jarak aman dengan kendaraan di depan perlu diperpanjang. Pada cuaca kering jarak dua detik cukup, namun saat jalan basah jarak itu perlu digandakan menjadi empat detik atau lebih. Jarak ini memberi ruang rem yang cukup, sebab rem cakram dan trombol sama-sama butuh waktu lebih lama untuk menghentikan kendaraan ketika permukaan jalan kehilangan gesekan.
Ketiga, pengendara sepeda motor disarankan menurunkan kecepatan secara signifikan di tikungan, khususnya di ruas pegunungan seperti jalur Kupang–Soe, Ende–Bajawa, atau Ruteng–Labuan Bajo. Teknik menikung yang benar adalah menurunkan kecepatan sebelum masuk tikungan, bukan mengerem di tengah tikungan, karena rem mendadak di jalan licin adalah penyebab utama kecelakaan tunggal di ruas seperti ini.
Keempat, perhatikan pula keterbatasan infrastruktur. Tidak sedikit ruas antarkota di NTT yang belum memiliki penerangan memadai, dan genangan air di malam hari nyaris mustahil terlihat sebelum roda menabraknya. Penggunaan lampu utama sejak matahari terbenam, ditambah kecepatan yang diturunkan pada ruas gelap, adalah langkah paling murah namun paling menyelamatkan.
Kelima, persiapan administratif juga ikut berperan. STNK yang masih berlaku, SIM yang sesuai golongan, dan asuransi kendaraan yang aktif menjadi penyelamat finansial ketika hal tak terduga terjadi di tengah perjalanan jauh. Perjalanan antarpulau yang menempuh jalur laut juga menuntut cek jadwal dan kondisi cuaca penyeberangan sebelum berangkat, agar tidak terjebak menunggu di dermaga berjam-jam.
Terakhir, kebiasaan kecil seperti membawa jas hujan ringan, menyimpan dokumen di wadah kedap air, dan memastikan telepon selalu terisi daya akan membuat perjalanan jauh jauh lebih tertangani ketika cuaca berubah mendadak. Musim hujan di NTT memang tidak selalu berarti badai, namun kesediaan menyesuaikan kecepatan dan gaya berkendara dengan kondisi jalan adalah pembeda antara selamat sampai tujuan dan menjadi tambahan angka statistik kecelakaan.(*)
Follow