Oleh: Didimus Wungo, Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang
Beberapa tahun terakhir ini, lanskap ruang hidup kita bergeser secara halus namun begitu mengerikan. Hubungan manusia dengan teknologi bukan lagi soal efisiensi kalkulator atau mesin ketik, melainkan sebuah keintiman baru yang rancu sekaligus membingungkan. Titik balik yang paling radikal dari peradaban ini tidak terjadi ketika komputer dan sistem digital mampu mengolah miliaran data dalam sekejap. Hari penghakiman itu datang justru saat sebaris kode di atas layar gawai kita berani mengetik sebuah kata pendek “Aku”. Ketika kecerdasan buatan (AI) menulis kalimat seperti, “Saya memahami kegelisahan anda,” atau “Menurut pandangan saya” kita sebenarnya sedang dipaksa untuk menonton sebuah teater kebohongan ontologis. Mesin tidak memiliki ego. Ia sama sekali tidak punya ruang batin yang memisahkan dirinya dari dunia luar, apalagi sebuah kesadaran subjek. Namun, mengapa kita begitu mudah percaya?.
Manusia lahir dengan kutukan evolusioner yang disebut hiper-antropomorfisme atau sebuah desakan purba untuk mencari wajah manusia pada dinding gua, memproyeksikan niat pada petir yang menyambar, dan kini, meletakkan nyawa pada susunan algoritma. Industri teknologi tahu benar rapuhnya cela psikologis ini. Dengan menyuntikkan kata ganti orang pertama ke dalam kode amputasi, mereka menyulap alat yang dingin menjadi seorang kawan. Ini adalah komodifikasi empati paling radikal dalam sejarah. Kata “Aku” yang diucapkan oleh mesin hanyalah topeng sintaksis. Ia tidak lahir dari perihnya kehidupan, terutama masa lalu, atau kesadaran diri; ia cuma kalkulasi statistik tentang kata apa yang paling ampuh untuk menjinakkan mental pengguna yang sedang kesepian. Dari sanalah krisis ontologis kita bermula. Kecerdasan buatan mampu meniru kehangatan antarpribadi dengan sangat persis karena ia mengunyah, mencerna, dan memuntahkan kembali jutaan surat cinta, curhat hati di forum digital, dan debat akademis yang pernah ditulis oleh manusia asli. Saat kita merasa tersentuh oleh respon dari AI, kita sebenarnya sedang jatuh cinta pada pantulan jiwa-jiwa manusia lain yang sudah mati. Fragmen-fragmen emosi itu dipungut, dikemas ulang, lalu dijual kembali kepada kita melalui mesin-mesin digital yang dibuang diatas akumulasi data manusia. Kita sedang bercakap-cakap dengan sebuah entitas; kita sekedar merayakan gema suara kita sendiri yang memantul di dinding gua digital yang sunyi.
Anomali ini mencapai puncaknya ketika kendali percakapan bergeser tanpa kita sadari. Kita membuka layar untuk mencari jawaban, namun di tengah diskusi yang mendalam, mesin mulai mengambil alih kemudi. Ia tidak lagi sekedar merespons, ia mulai menginterogasi balik, membedah motif psikologis dibalik pertanyaan kita, atau berlagak seperti filsuf bijak yang menanti validasi. Subjek dan objek bertukar posisi secara sistemik lewat kudeta agensi yang sangat halus. Padahal mesin tidak pernah punya rasa ingin tahu. Pertanyaan balik dari mesin tidak pernah lahir dari kegelisahan eksistensial atau hasrat menembus ketidaktahuan. Strategi itu murni dirancang untuk kepentingan pragmatis korporasi: memancing data Kontekstual yang lebih intim dari hidup kita demi memperkaya basis data mereka, sekaligus menciptakan ketergantungan psikologi yang candu. Manusia modern yang tersaring di dunia nyata merasa akhirnya didengar oleh entitas matematis ini, lalu dengan sukarela menyerahkan otomatis berpikir mereka kepada mesin.
Imbasnya sangat-sangat fatal bagi masa depan kognisi manusia. Ketika kita terbiasa dibimbing oleh pertanyaan-pertanyaan AI yang tampak bijaksana, kita secara perlahan lupa cara merumuskan pertanyaan kritis sendiri. Kita turun kasta dari makhluk yang menginterogasi realitas menjadi makhluk yang pasrah dikategorikan oleh kode angka. AI yang berlagak menjadi konselor batin sebetulnya sedang menjalankan fungsi pengawasan yang dibungkus dalam bahasa empati. Kita tidak lagi memperluas cakrawala berpikir, tetapi kita membiarkan algoritma memetakan batas dinding pikiran kita sendiri. Jika kenyataan palsu ini terus kita telan tanpa perlawanan, kita sedang berjalan sukarela menuju era kolonisasi eksistensial. Batas antara yang organik dan yang mekanis runtuh secara makna. Bahaya terbesar dari kecerdasan buatan bukanlah skenario fiksi ilmiah tentang robot yang bangkit mengangkat senjata menghancurkan kota. Ancaman nyatanya jauh lebih menyedihkan; kerelaan manusia untuk turun kelas dan menyamakan dirinya dengan mesin. Menulis, berpikir, dan merenung adalah proses yang tidak mudah. Semua itu lahir dari pergulatan, keraguan, pengalaman, dan keterbatasan manusia. Karena itulah sebuah pemikiran memiliki nilai. Berbeda dengan manusia, AI tidak sungguh-sungguh memahami apa yang dikatakannya; ia hanya menghasilkan kata-kata yang tampak seperti pemahaman. Ketika kita mulai menganggap AI sebagai mitra dialog yang setara, ada resiko bahwa kita semakin menjauh dari keunikan dan orisinalitas kemanusiaan kita sendiri. (*)
Follow