Kupang, seputar-ntt.com – Malam di Kota Kupang sedang merayap pelan. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya ke aspal yang mulai lengang. Angin dari Teluk Kupang berembus tipis, seolah ikut menjaga percakapan-percakapan yang malam itu akan lahir di balik dinding sebuah hotel.
Jumat malam, 31 Juli 2026. Jarum jam baru saja melewati pukul 21.00 WITA ketika pintu lift Hotel Harper Kupang menutup perlahan. Tujuannya lantai sembilan. Di sana, tepat di President Suite Nomor 923, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, bermalam setelah seharian menyapa masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Pukul 21.05 WITA, pintu kamar terbuka. Joko Widodo atau Pak Jokowi, sebagaimana publik mengenalnya, menyambut tamunya dengan senyum yang selalu tampak sederhana. Malam itu, tamu yang dipersilakan masuk adalah Bupati pertama Kabupaten Sabu Raijua, Marthen Luter Dira Tome.
Di ruang itu telah duduk Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, Ketua Harian PSI Ahmad Ali, dan Ketua DPW PSI NTT, dr. Christian Widodo. Tidak ada meja konferensi. Tidak ada podium. Tidak ada pidato yang disiapkan. Yang ada hanyalah percakapan panjang, hangat, dan sesekali diselingi tawa.
Percakapan yang bermula dari kenangan, lalu menjelma menjadi pembicaraan tentang masa depan. Mereka mengembalikan memori pada tahun-tahun ketika NTT menjadi salah satu daerah yang paling sering dikunjungi Jokowi. Jalan, bendungan, embung, pelabuhan, hingga berbagai infrastruktur yang pernah dibangun menjadi potongan-potongan cerita yang kembali dirangkai malam itu.
Namun, di antara banyak topik, ada satu pembahasan yang membuat percakapan semakin hidup. Garam. Barangkali tidak banyak yang menyangka bahwa mantan kepala negara itu masih begitu rinci mengingat potensi garam di Nusa Tenggara Timur. Bahkan, Jokowi mengetahui perkembangan garam dari Kabupaten Sabu Raijua. Itulah kenapa Marthen Dira Tome dicari. Lewat perantara seorang ibu bernama panggilan Jes. Wanita yang telah malang melintang dalam dunia politik dan kini menjadi sosok bayang-bayang di belakang layar PSI.
Dari sanalah arah diskusi berubah. Marthen Dira Tome menjadi lebih banyak berbicara. Sebagai pelopor pembangunan tambak garam berbasis teknologi geomembran di NTT, ia mengurai potensi daerahnya dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh data dan pengalaman lapangan.
Jokowi menyimak hampir tanpa jeda. Ia mengingat kembali gagasan besar yang pernah ia dorong semasa memimpin Indonesia: swasembada garam nasional.
Target itu bukan sekadar slogan. Indonesia masih menghadapi kekurangan produksi sekitar 2,8 juta ton garam. Karena itu, keran impor semestinya mulai ditutup agar kebutuhan nasional dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
Di mata Jokowi, NTT bukan sekadar provinsi kepulauan di selatan Indonesia. Daerah ini adalah laboratorium alam yang hampir sempurna untuk menghasilkan garam. Matahari bersinar lebih panjang. Musim kemarau berlangsung lebih lama. Angin bertiup konsisten. Alam telah menyediakan semuanya. Yang dibutuhkan tinggal keberanian untuk mengelolanya.
Marthen lalu menjelaskan bagaimana teknologi geomembran mampu meningkatkan kualitas sekaligus produktivitas garam. Pengalaman membangun tambak di Sabu Raijua menjadi contoh bahwa NTT tidak lagi hanya berbicara tentang potensi, tetapi sudah memasuki tahap pembuktian.
Percakapan mengalir tanpa terasa. Sembilan puluh tujuh menit berlalu seperti sekejap. Begitulah politik ketika dipertemukan dengan gagasan. Waktu sering kehilangan hitungannya.
Sesekali pembahasan bergeser dari garam menuju arah yang lebih politis. Masa depan Partai Solidaritas Indonesia ikut menjadi bagian dari obrolan malam itu. Kaesang Pangarep, Ahmad Ali, dan dr. Christian Widodo terlibat dalam diskusi yang cair mengenai bagaimana PSI membaca peluang di bumi Flobamora.
Tidak ada ketegangan. Yang ada hanyalah pertukaran pengalaman, pandangan, dan optimisme. Mungkin memang demikian wajah politik ketika dilepaskan dari hiruk-pikuk panggung. Ia berubah menjadi ruang percakapan yang tenang, tempat gagasan diuji sebelum akhirnya berjalan menjadi kebijakan.
Malam semakin larut ketika diskusi berakhir. Namun, satu kesan masih tertinggal. Bahwa bagi Jokowi, NTT belum pernah benar-benar selesai menjadi bagian dari pikirannya. Bahkan setelah tak lagi memegang tampuk pemerintahan, ia masih mengingat detail-detail yang bagi banyak orang mungkin telah terlupakan, tentang matahari yang lebih lama menyinari Pulau Sabu, tentang angin yang membantu kristal-kristal garam lahir dari laut, hingga peluang menjadikan NTT sebagai salah satu penyangga swasembada garam Indonesia.
Dan ketika percakapan bergeser menuju masa depan PSI di tanah Flobamora, malam itu seperti menemukan metaforanya sendiri. NTT memang tidak memiliki gajah yang berkeliaran di padang-padangnya.
Tetapi tanah ini mengenal gading gajah sebagai simbol kehormatan, yang sejak lama menjadi mahar dalam tradisi meminang perempuan di negeri yang berjuluk Cabo da Flora atau Nusa Bunga.
Barangkali, di situlah politik dan kebudayaan saling bersalaman. Seekor gajah tidak pernah hidup di NTT. Tetapi nilai yang dilambangkannya telah lama menjadi bagian dari perjalanan masyarakatnya. Mungkin karena itulah, di sebuah kamar bernomor 923, politik malam itu tidak sekadar berbicara tentang partai. Ia sedang berbicara tentang masa depan. (joey rihi ga)
Follow