Di Balik Seragam Polisi, Laasar Bulu Berbagi Buku dan Harapan di Sabu Raijua

Date:

Share:

Menia, seputar-ntt.com – Pagi itu, matahari menyinari halaman SD GMIT Bolou 2 di Kecamatan Sabu Timur dengan hangat. Tawa anak-anak berbaur dengan semilir angin yang datang dari pesisir. Di tengah kesederhanaan sekolah itu, seorang polisi datang bukan membawa sirene, bukan pula menjalankan penegakan hukum. Ia datang dengan setumpuk buku tulis dan senyum yang tulus.

Namanya Aipda Laasar Marlens Bullu, Ps. Kanit Propam Polsek Sabu Timur, Polres Sabu Raijua. Pada Rabu, 5 Agustus 2026, ia memilih mengisi hari dengan cara yang sederhana, tetapi menyentuh hati: membagikan buku tulis kepada para siswa SD GMIT Bolou 2.

Bagi sebagian orang, buku tulis hanyalah lembaran kertas bergaris. Namun, di tangan anak-anak yang sedang mengejar mimpi, buku itu adalah ruang pertama tempat cita-cita ditulis.

Laasar memahami betul makna itu.

“Hari ini saya tidak hanya membagikan selembar kertas dan garis-garis. Saya membagikan harapan,” ucapnya lembut kepada para siswa.

Ia memandang wajah-wajah kecil yang menyambutnya dengan mata berbinar. Baginya, setiap halaman kosong dalam buku itu adalah ruang yang akan dipenuhi mimpi-mimpi besar.

“Di setiap halaman buku ini, semoga tertulis mimpi-mimpi besar anak-anak SD GMIT Bolou 2. Mungkin hari ini hanya buku tulis, tetapi besok bisa menjadi cerita, puisi, rumus, dan cita-cita yang mengangkat nama Bolou,” katanya.

Pesan yang disampaikannya sederhana, tetapi sarat makna. Ia mengajak anak-anak belajar dengan sungguh-sungguh karena setiap goresan pensil adalah langkah menuju masa depan.

“Buku ini kecil, tetapi isinya bisa mengubah dunia. Isilah dengan ilmu, dengan doa, dan dengan prestasi. Jangan pernah malu bermimpi besar dari sekolah kecil. Dari Bolou 2 bisa lahir dokter, guru, pendeta, bahkan pemimpin hebat,” ujarnya.

Bagi Laasar, pendidikan adalah jembatan emas yang mampu mengubah kehidupan seseorang. Karena itu, ia bersyukur dapat berbagi meski hanya melalui beberapa buku tulis.

“Mungkin nilainya sederhana, tetapi maknanya besar. Semoga buku ini menjadi saksi bahwa selalu ada orang-orang yang peduli dan mendoakan anak-anak SD GMIT Bolou 2,” tuturnya.

Ia pun menitipkan penghormatan kepada para guru yang setiap hari menanam benih pengetahuan.

“Kepada Bapak dan Ibu Guru, terima kasih sudah menanam. Kepada anak-anak, teruslah bertumbuh. Pendidikan adalah jembatan emas menuju masa depan. Setetes tinta hari ini bisa menjadi samudra prestasi esok hari.”

Kalimat terakhir yang ia ucapkan terdengar begitu menyentuh.

“Di tangan kecil ini saya titipkan buku. Di hati besar mereka saya titipkan doa. Kalian, anak-anak GMIT Bolou 2, teruslah menulis sejarah dengan prestasi. Tuhan melihat setiap usaha kalian.”

Suasana sekolah yang semula riuh mendadak hening. Beberapa guru tampak tersenyum haru mendengar pesan itu.

Guru SD GMIT Bolou 2, Eudes, mengaku terharu atas kepedulian yang ditunjukkan anggota Polri tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Asar Bulu yang sudah membantu para siswa di sekolah kami. Kami merasa bahagia karena kepedulian yang tulus dari seorang bapak polisi kepada anak-anak kami. Bantuan ini sangat berharga karena membantu mereka sehingga orang tua tidak lagi membeli buku. Harapan kami semoga Pak Asar selalu diberkati dalam tugas dan pengabdiannya sebagai seorang polisi,” katanya.

Di sudut lain, Dewi, salah seorang siswi, memeluk erat buku tulis yang baru diterimanya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

“Kami senang bisa dapat buku tulis. Ini sangat membantu kami karena orang tua tidak perlu beli buku lagi untuk kami. Terima kasih, Bapa Polisi,” ucapnya polos.

Mungkin bantuan itu tidak bernilai besar jika dihitung dengan angka. Namun, di sebuah sekolah kecil di ujung selatan Indonesia, kepedulian itu telah menghadirkan kebahagiaan yang tak bisa diukur dengan rupiah.

Di sana, seorang polisi menunjukkan bahwa tugas mengabdi kepada masyarakat tidak selalu dilakukan dengan tindakan besar. Kadang, cukup dengan selembar buku tulis, sebaris doa, dan keyakinan bahwa setiap anak berhak menuliskan masa depannya sendiri.

Sebab, dari halaman-halaman kosong itulah, mimpi-mimpi besar sering kali memulai kisahnya. (joey rihi ga)

Komentar Anda?

━ Kabar Lainnya

Piala Wali Kota Kupang II Digelar, Rebutkan Total Hadiah Rp40 Juta

Kupang, seputar-ntt.com — Turnamen Tenis Piala Wali Kota Kupang II Tahun 2026 kembali digelar untuk mendorong pertumbuhan olahraga tenis sekaligus membuka ruang lebih luas...

Resmikan Gedung Baru SD Inpres Oesapa, Wali Kota Kupang: Sekolah Tempat Menjaga Mimpi Anak

Kupang, seputar-ntt.com - Di tengah keterbatasan dan efisiensi anggaran, Pemerintah Kota Kupang tetap menempatkan pendidikan sebagai investasi utama masa depan. Komitmen itu ditegaskan Wali...

Pemkot Hibah 200 Juta Untuk Askot PSSI, Wali Kota Bidik Masa Depan Sepak Bola Kota Kupang

Kupang, seputar-ntt.com - Dukungan Pemerintah Kota Kupang terhadap sepak bola tidak berhenti pada wacana. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memastikan dukungan konkret melalui...

Wali Kota Kupang Lepas Kontingen Kempo ke Badung

Kupang, seputar-ntt.com - Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menitipkan pesan khusus kepada 31 atlet Shorinji Kempo Kota Kupang yang akan berlaga pada Kejuaraan...

Kadispora Kota Kupang Buka Turnamen Betlehem Naikolan Cup II, Dorong Pemuda Kembangkan Potensi

Kupang, seputar-ntt.com — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Kupang membuka Turnamen Futsal Betlehem Naikolan Cup II Tahun 2026 dengan membawa pesan penting bagi...