Kupang, seputar-ntt.com — Tepuk tangan dan sorak bangga menyambut kepulangan dua pelajar terbaik Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bandar Udara El Tari Kupang, Sabtu (22/8/2026).
Mereka adalah A.M.F. Yogar, atau yang akrab disapa Delano, siswa SMA Katolik Giovani Kupang, dan Maria Janet Boy, siswi SMA Negeri 1 Kupang. Keduanya pulang ke tanah kelahiran setelah menorehkan prestasi di tingkat nasional sebagai Duta Pancasila 2026.
Kepulangan mereka bukan sekadar perjalanan pulang dari Jakarta. Ada kebanggaan yang ikut dibawa: nama NTT yang berkibar di panggung nasional.
Delano dan Janet merupakan dua dari 38 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia yang dipercaya menjadi Duta Pancasila 2026. Keduanya dikukuhkan secara resmi oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka pada 15 Agustus 2026.
Suasana haru pecah ketika keduanya keluar dari pintu kedatangan Bandara El Tari. Para guru, keluarga, serta ratusan siswa dari SMA Katolik Giovani Kupang dan SMA Negeri 1 Kupang telah menanti.
Sambutan itu menjadi bentuk penghormatan sekaligus kebanggaan atas perjuangan dua pelajar NTT yang sebelumnya juga menjadi bagian dari Paskibraka Nasional 2026.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi NTT, Noldy Pelokilla, turut hadir menjemput Delano dan Janet. Ia mewakili Gubernur NTT Melki Laka Lena.
Menurut Noldy, keberhasilan keduanya menjadi kebanggaan bukan hanya bagi keluarga dan sekolah, tetapi juga bagi seluruh masyarakat NTT.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, kami merasa bangga atas keberhasilan yang diraih Delano dan Janet. Mereka bukan saja dipercaya sebagai Duta Pancasila, tetapi juga telah mengharumkan nama daerah sebagai anggota Paskibraka Nasional 2026,” ujar Noldy.
Namun, menurut Noldy, gelar Duta Pancasila bukan sekadar penghargaan. Ada amanah yang jauh lebih besar di baliknya.
Keduanya diharapkan mampu menjadi teladan bagi generasi muda, sekaligus menerjemahkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan nyata, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Kami berharap kedua duta ini mampu menjadi contoh dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila di sekolah dan lingkungan masyarakat, sehingga dapat memperkuat semangat kecintaan terhadap ideologi negara,” katanya.
Di balik kebahagiaan itu, ada suasana berbeda yang dirasakan Delano.
NTT masih berada dalam suasana duka akibat bencana yang menimpa sebagian masyarakat. Karena itu, sambutan meriah yang diterimanya justru membuat perasaan Delano semakin bercampur aduk.
Ia mengaku tidak pernah membayangkan perjalanan yang dimulainya dari ruang kelas SMA Katolik Giovani Kupang tersebut akan membawanya hingga ke Istana Negara.
“Jujur, perasaan saya campur aduk melihat situasi ini. Saya tidak menyangka bisa sampai pada titik sejauh ini. Saya hanya menjalani semuanya dengan doa dan dukungan dari seluruh masyarakat NTT,” ungkap Delano.
Ia terharu melihat para guru dan ratusan pelajar datang menyambutnya.
Namun, bagi Delano, pencapaian tersebut bukan alasan untuk larut dalam kebanggaan. Justru di tengah duka yang sedang dirasakan masyarakat NTT, ia ingin prestasi itu menjadi sebuah pesan bahwa harapan selalu ada.
“Sambutan ini membuat saya terharu. Apalagi daerah kita sedang menghadapi musibah. Saya berharap prestasi ini bisa menjadi spirit dan penyemangat bahwa dengan terus berjuang, berdoa, dan mengandalkan Tuhan, kita bisa meraih mimpi dan tujuan,” katanya.
Perjalanan Delano di tingkat nasional memang tidak berhenti pada pengukuhannya sebagai Duta Pancasila.
Dalam formasi Paskibraka Nasional 2026, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Komandan Kelompok (Danpok) 8.
Kepercayaan itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Delano ketika menjalankan tugas pada Upacara Penurunan Bendera Merah Putih dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara, 17 Agustus 2026.
Dari ruang kelas SMA Katolik Giovani Kupang, Delano kemudian berdiri di hadapan bangsa dalam barisan Paskibraka Nasional.
Perjalanan tersebut tidak lahir dalam semalam. Ada disiplin, latihan, doa, pengorbanan, serta dukungan keluarga, guru dan masyarakat yang mengiringi setiap langkahnya.
Kini Delano telah kembali ke tanah kelahirannya.
Ia membawa pulang bukan hanya pengalaman dari Istana Negara, tetapi juga sebuah amanah baru.
Sebagai Duta Pancasila 2026, langkah Delano dan Janet selanjutnya bukan lagi sekadar tentang bagaimana mempertahankan sebuah prestasi, melainkan bagaimana menjadikan prestasi itu sebagai energi untuk menginspirasi generasi muda NTT.
Di tengah daerah yang sedang berduka, kepulangan mereka membawa satu pesan sederhana: prestasi seorang anak daerah dapat menjadi cahaya harapan bagi banyak orang.
Kalau ingin, saya juga bisa membuat versi yang lebih tajam dan “menggigit” seperti headline media nasional, dengan pembuka yang langsung menghentak dan judul yang lebih viral. (*)
Follow