Kupang, seputar-ntt.com – Kampung adat Praijing di Desa Wailabubur, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, kembali menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan arsitektur tradisional Sumba yang masih terjaga keasliannya. Perkampungan ini berdiri di atas bukit dengan deretan rumah adat bertiang tinggi beratap jerami yang menjulang, membentuk lanskap khas yang jarang ditemukan di wilayah lain di Nusa Tenggara Timur.
Praijing merupakan salah satu kampung adat yang masih aktif dihuni. Rumah-rumah adat di sini dibangun dengan struktur bertingkat: bagian bawah untuk hewan ternak, bagian tengah untuk kegiatan keluarga, dan bagian atas untuk menyimpan hasil panen serta barang pusaka. Konstruksi kayu dan bambu yang disusun tanpa paku modern menjadi bukti kepiawaian tukang tradisional Sumba yang diwariskan lintas generasi.
Dari lokasinya yang berada di dataran tinggi, pengunjung dapat menikmati panorama perbukitan savana yang menguning pada musim kemarau dan menghijau pada musim hujan. Suasana tenang menjadikan kampung ini cocok bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya mendalam, jauh dari keramaian kawasan wisata mainstream.
Akses menuju Praijing ditempuh sekitar dua jam perjalanan darat dari Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Jalanan sebagian sudah beraspal, meski pengunjung disarankan menggunakan kendaraan dengan kondisi prima, terutama saat musim hujan ketika sebagian ruas menjadi licin dan berlumpur.
Bagi pecinta fotografi, momen terbaik berkunjung adalah pagi hari sekitar pukul enam hingga delapan waktu setempat. Cahaya keemasan yang menyapu atap jerami menghasilkan siluet rumah adat yang dramatis, sementara kabut tipis di lembah menambah kesan mistis gambar yang dihasilkan.
Pengelolaan kampung dilakukan secara komunal oleh masyarakat adat setempat. Wisatawan diwajibkan melapor kepada penjaga kampung sebelum berkeliling, dan terdapat ketentuan umum berupa sumbangan sukarela yang digunakan untuk perawatan rumah adat. Aturan ini membantu menjaga keberlanjutan situs sekaligus memberi manfaat ekonomi langsung bagi warga.
Sejumlah rumah adat di Praijing telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi. Penetapan tersebut memberikan payung hukum bagi upaya pelestarian, termasuk pembatasan modifikasi struktur tanpa persetujuan instansi terkait. Pemerintah daerah juga tercatat mendorong kampung adat lain di Sumba untuk mengikuti pola pengelolaan serupa.
Kehadiran wisatawan di kampung-kampung adat Sumba umumnya berdampak ganda: di satu sisi membuka sumber pendapatan baru bagi warga, di sisi lain menuntut keseimbangan agar kehidupan ritual dan tradisi tidak terganggu. Praijing, dengan pengelolaan yang masih sederhana namun tertib, menjadi contoh bagaimana destinasi budaya kecil dapat bertahan di tengah arus pariwisata modern.(*)
Follow